Sabtu, 5 September 2026 Samarinda, ID
Nasional

Karhutla Mengganas di Cagar Alam, Kawah Ijen Terancam Ditutup Sementara

Petugas gabungan berjibaku memadamkan api yang melalap kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, mengancam operasional Taman Wisata Alam Kawah Ijen di Jawa Timur. (Foto: cnnindonesia.com)

BANYUWANGI – Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, permata ekowisata di Jawa Timur, kini berada dalam bayang-bayang penutupan sementara. Ancaman serius ini muncul menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sejak Kamis (3/9) mengganas di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, area yang berdekatan dan sangat vital bagi ekosistem Ijen. Situasi ini tidak hanya membahayakan kelestarian alam, tetapi juga berpotensi melumpuhkan roda perekonomian lokal yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Tim gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta relawan terus berjibaku memadamkan api yang melalap vegetasi di medan terjal. Asap tebal dan bara api yang terus membara tidak hanya mengancam ekosistem cagar alam, tetapi juga menciptakan kondisi tidak aman bagi pengunjung TWA Kawah Ijen, sehingga opsi penutupan sementara menjadi sangat mendesak demi keselamatan bersama.

Ancaman Serius bagi Ekowisata Kawah Ijen

Potensi penutupan TWA Kawah Ijen bukanlah keputusan yang diambil ringan. Destinasi yang terkenal dengan fenomena blue fire-nya ini merupakan magnet pariwisata kelas dunia yang setiap harinya menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Penutupan akan berdampak langsung pada ribuan pekerja di sektor pariwisata, mulai dari pemandu lokal, pengelola penginapan, pedagang warung, hingga para penambang belerang tradisional yang kini juga merangkap sebagai porter wisata.

Dampak ekonomi bisa sangat signifikan, terutama mengingat sektor pariwisata sedang berupaya bangkit pascapandemi. “Jika Kawah Ijen ditutup, kami para pemandu dan porter tentu akan kehilangan mata pencarian. Ini pukulan berat bagi kami dan keluarga,” ujar salah seorang pemandu wisata lokal dengan nada khawatir. Penutupan juga akan merugikan pemerintah daerah dari segi pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari retribusi wisata.

Perjuangan Melawan Api di Tengah Medan Sulit

Upaya pemadaman Karhutla di Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup menghadapi tantangan besar. Topografi yang berbukit dan curam, ditambah tiupan angin kencang yang mempercepat penyebaran api, membuat tim harus bekerja ekstra keras. Kekeringan ekstrem akibat musim kemarau panjang juga menjadikan vegetasi hutan sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

BBKSDA Jawa Timur terus mengerahkan personel dan peralatan seadanya untuk membatasi pergerakan api agar tidak merembet ke area konservasi yang lebih luas, termasuk ke kawah utama Ijen. Koordinasi lintas sektoral menjadi kunci, dengan suplai logistik dan tenaga relawan terus mengalir untuk mendukung operasi pemadaman. Namun, luasnya area yang terbakar membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif, termasuk kemungkinan penggunaan bantuan udara jika kondisi memungkinkan dan api tak kunjung terkendali.

Kerusakan Ekologis dan Dampak Jangka Panjang

Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup adalah bagian integral dari kawasan konservasi Ijen yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kebakaran ini tidak hanya melenyapkan tegakan pohon, tetapi juga mengancam habitat satwa liar endemik dan ekosistem unik pegunungan. Flora dan fauna langka, termasuk beberapa jenis burung dan primata, berisiko kehilangan tempat tinggal atau bahkan punah akibat musibah ini.

Dampak ekologis dari Karhutla sangat kompleks dan berjangka panjang. Selain hilangnya vegetasi, kebakaran juga menyebabkan degradasi tanah, peningkatan erosi, dan potensi longsor di kemudian hari, terutama saat musim hujan tiba. Asap Karhutla juga berkontribusi pada polusi udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar dan kualitas udara regional. Pemulihan ekosistem pascakebakaran bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan dengan upaya restorasi intensif.

Evaluasi Pencegahan dan Mitigasi Karhutla

Insiden Karhutla di kawasan Ijen ini bukan yang pertama kali terjadi. Setiap musim kemarau, ancaman kebakaran hutan selalu membayangi, sebuah isu yang seringkali kami ulas dalam artikel-artikel sebelumnya mengenai tantangan konservasi di musim kering. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan mitigasi perlu terus dievaluasi dan diperkuat. Penyebab Karhutla seringkali multifaktor, mulai dari kelalaian manusia seperti pembakaran lahan untuk pertanian atau pembuangan puntung rokok sembarangan, hingga faktor alam seperti sambaran petir atau gesekan dahan kering saat cuaca ekstrem.

Beberapa langkah pencegahan yang perlu diintensifkan antara lain:

  • Edukasi Masyarakat: Peningkatan kesadaran tentang bahaya Karhutla dan pentingnya menjaga kelestarian hutan.
  • Patroli Terpadu: Peningkatan intensitas patroli oleh petugas konservasi dan relawan, terutama di area rawan kebakaran.
  • Pengawasan Ketat: Penerapan sanksi tegas bagi pelaku pembakaran hutan.
  • Sistem Peringatan Dini: Pengembangan dan implementasi teknologi untuk deteksi dini titik api.
  • Penanaman Kembali: Program reboisasi dan rehabilitasi lahan pasca-kebakaran.

Kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup dan TWA Kawah Ijen adalah aset nasional yang tak ternilai harganya. Perlindungan dan pelestariannya membutuhkan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Informasi lebih lanjut mengenai upaya konservasi dan penanganan Karhutla dapat diakses melalui situs resmi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.