Sabtu, 19 September 2026 Samarinda, ID
Internasional

Klaim Kontroversial Charles Spencer: Raja Charles III ‘Sangat Gembira’ Malam Kematian Putri Diana

Charles Spencer (kiri), adik Putri Diana, dan Raja Charles III (kanan), saat pemakaman Putri Diana di Westminster Abbey pada September 1997. (Foto: cnnindonesia.com)

Pengakuan mengejutkan datang dari Charles Spencer, adik laki-laki mendiang Putri Diana, yang mengklaim Raja Charles III (saat itu Pangeran Charles) terdengar ‘sangat gembira’ pada malam tragedi meninggalnya Putri Diana pada Agustus 1997. Klaim kontroversial ini, yang muncul hampir 27 tahun setelah peristiwa tragis tersebut, berpotensi memicu kembali perdebatan dan sorotan tajam terhadap reaksi internal keluarga kerajaan Inggris terhadap kematian ikon global tersebut.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Menurut pengakuan Lord Spencer, seperti yang diungkapkannya baru-baru ini, percakapan telepon yang ia lakukan dengan Pangeran Charles pada malam itu meninggalkan kesan mendalam yang sulit ia lupakan. Kesan ‘gembira’ yang disampaikannya ini bertolak belakang dengan citra kesedihan dan duka cita yang diperlihatkan publik serta tuntutan emosional dari situasi tersebut. Pengungkapan ini menambah lapisan baru pada narasi historis seputar kematian Putri Diana, yang hingga kini masih menjadi topik sensitif dan perbincangan hangat di seluruh dunia.

Pengungkapan Mengejutkan Lord Spencer

Charles Spencer, atau yang juga dikenal sebagai Earl Spencer ke-9, bukan sosok asing dalam mengkritik atau mengungkapkan pandangannya mengenai keluarga kerajaan, terutama setelah kematian saudarinya. Pidato euloginya yang emosional dan blak-blakan pada pemakaman Putri Diana pada tahun 1997 secara luas diinterpretasikan sebagai teguran terhadap keluarga kerajaan atas perlakuan mereka terhadap Diana.

Kini, dengan klaim barunya, Lord Spencer sekali lagi menempatkan dirinya di tengah pusaran perhatian, memberikan perspektif pribadi yang sangat intim dan berpotensi eksplosif. Ia secara gamblang menyatakan bahwa ‘nada suara’ Pangeran Charles pada malam itu ‘aneh’ dan ‘sangat gembira’, sebuah observasi yang menurutnya membingungkan dan tidak pantas mengingat situasi yang mengerikan tersebut. Spencer menyiratkan bahwa reaksi tersebut jauh dari apa yang diharapkan dari seorang mantan suami dan ayah dari dua anak Diana, Pangeran William dan Pangeran Harry.

Konteks Kematian Putri Diana dan Reaksi Publik

Putri Diana meninggal dalam kecelakaan mobil tragis di Paris pada 31 Agustus 1997, sebuah peristiwa yang mengguncang dunia dan memicu gelombang duka cita massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jutaan orang di seluruh dunia berduka atas kepergian ‘Putri Rakyat’ tersebut. Reaksi awal keluarga kerajaan, yang pada awalnya tampak dingin dan menyendiri di Balmoral, Skotlandia, menuai kritik keras dari publik dan media.

Pangeran Charles saat itu memainkan peran penting dengan terbang ke Paris untuk mengantar jenazah mantan istrinya kembali ke Inggris, sebuah tindakan yang dipandang sebagai simbol penghormatan terakhir. Namun, klaim Spencer ini berpotensi membayangi tindakan tersebut dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai perasaan dan motivasi internal sang pangeran pada saat itu. Publik dan media kala itu sangat memperhatikan setiap gerak-gerik dan ekspresi para bangsawan, mencari tanda-tanda kesedihan yang tulus.

  • 1997: Putri Diana meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris.
  • Duka Cita Global: Jutaan orang berduka, julukan ‘Putri Rakyat’ semakin melekat.
  • Kritik Awal: Keluarga Kerajaan dianggap ‘dingin’ karena reaksi awal yang tertutup.
  • Peran Pangeran Charles: Terbang ke Paris menjemput jenazah Diana, sebuah tindakan yang dihargai publik.
  • Kontroversi Berlanjut: Klaim Spencer kini menyoroti kembali dinamika internal keluarga.

Implikasi Klaim Terhadap Monarki

Meskipun sudah puluhan tahun berlalu, klaim semacam ini memiliki implikasi signifikan terhadap persepsi publik terhadap Raja Charles III, terutama mengingat ia baru saja naik takhta. Meskipun Buckingham Palace secara tradisional menolak untuk mengomentari masalah pribadi keluarga, pengungkapan ini dapat memicu kembali spekulasi mengenai hubungan Charles dan Diana serta kompleksitas emosional di balik pernikahan mereka yang bergejolak.

Klaim ini juga dapat memengaruhi cara sejarah memandang Charles III dan perannya dalam salah satu momen paling dramatis dalam sejarah monarki modern. Narasi yang dibangun seputar kesedihan dan penyesalan mungkin akan dipertanyakan oleh beberapa pihak, terutama mengingat sumber klaim ini adalah adik kandung Diana sendiri. Ini menambah dimensi baru pada diskusi berkelanjutan mengenai transparansi dan akuntabilitas dalam institusi kerajaan.

Pengungkapan dari Charles Spencer ini tidak hanya sekadar gosip lama, melainkan sebuah pernyataan yang berpotensi mengubah perspektif terhadap salah satu figur sentral dalam tragedi yang mengubah wajah monarki Inggris. Ini memaksa masyarakat untuk kembali merenungkan bagaimana perasaan dan interaksi pribadi dalam keluarga kerajaan membentuk narasi publik dan sejarah. Seiring waktu, klaim semacam ini terus menantang citra publik yang telah lama terbentuk dan menyoroti kompleksitas emosi manusia di balik dinding istana.