Kamis, 24 September 2026 Samarinda, ID
Internasional

Sindiran Tajam Presiden Assad: Tawarkan New Jersey untuk Israel di Tengah Sengketa Golan

Presiden Suriah Bashar al-Assad saat menyampaikan pernyataan. Pernyataan terbarunya tentang Dataran Tinggi Golan memicu perdebatan di kancah internasional. (Foto: cnnindonesia.com)

Sindiran Tajam Presiden Assad: Tawarkan New Jersey untuk Israel di Tengah Sengketa Golan

Presiden Suriah Bashar al-Assad melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan Amerika Serikat mengenai status Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Dalam sebuah pernyataan yang sarat sarkasme, Assad menyinggung keputusan Presiden AS kala itu, Donald Trump, yang mengakui kedaulatan Israel atas wilayah strategis tersebut. Assad secara sinis menyarankan agar AS dapat memberikan negara bagian New Jersey kepada Israel jika memang ingin mengakui klaim wilayah secara sepihak, bukan justru wilayah yang diakui secara internasional sebagai wilayah Suriah yang diduduki.

Pernyataan Assad ini menjadi sorotan tajam di tengah ketegangan geopolitik yang terus membara di Timur Tengah. Lelucon pahit tersebut bukan hanya sekadar sindiran, melainkan cerminan dari frustrasi Suriah terhadap pengabaian hukum internasional dan dukungan AS terhadap Israel dalam sengketa teritorial yang telah berlangsung puluhan tahun. Komentar tersebut menegaskan kembali posisi teguh Damaskus bahwa Golan adalah wilayah Suriah yang diduduki dan kedaulatan atasnya tidak dapat dinegosiasikan. Ini juga mengingatkan kembali pada keputusan kontroversial Donald Trump pada Maret 2019, yang secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, sebuah langkah yang memicu kecaman luas dari komunitas internasional dan dianggap melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Latar Belakang dan Sejarah Dataran Tinggi Golan

Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah strategis seluas sekitar 1.200 kilometer persegi yang terletak di perbatasan antara Suriah dan Israel. Israel merebut sebagian besar wilayah ini dari Suriah selama Perang Enam Hari pada tahun 1967 dan kemudian menganeksasinya pada tahun 1981. Aneksasi ini tidak pernah diakui oleh komunitas internasional, dan PBB telah berulang kali menyerukan agar Israel menarik diri dari wilayah tersebut. Resolusi Dewan Keamanan PBB 497, misalnya, secara tegas menyatakan bahwa keputusan Israel untuk menerapkan hukum dan administrasinya di Dataran Tinggi Golan adalah ‘batal demi hukum dan tidak memiliki efek hukum internasional’.
Baca selengkapnya tentang Resolusi Dewan Keamanan PBB 497 (1981)

Kepentingan strategis Golan meliputi kontrol atas sumber daya air penting, seperti sebagian besar Sungai Yordan dan Danau Tiberias, serta keunggulan militer karena ketinggiannya yang memungkinkan pengawasan luas atas wilayah sekitarnya. Bagi Suriah, pengembalian Golan adalah isu kedaulatan nasional yang mendasar, sedangkan bagi Israel, wilayah ini adalah zona keamanan vital yang melindungi dari potensi ancaman militer dari timur. Sejak aneksasi, ribuan pemukim Israel telah mendirikan permukiman di Golan, semakin memperumit upaya penyelesaian damai.

Implikasi Sindiran Assad dan Respons Internasional

Sindiran Presiden Assad terhadap Trump dan New Jersey ini mencerminkan betapa dalamnya luka dan kemarahan Suriah terhadap kebijakan AS yang dianggap bias dan merusak prospek perdamaian di kawasan. Pernyataan tersebut bukan hanya ditujukan kepada Washington, tetapi juga untuk konsumsi domestik dan regional, sebagai penegasan bahwa Suriah tidak akan menyerah pada klaimnya atas Golan, meskipun menghadapi tekanan internasional dan konflik internal yang panjang.

Komunitas internasional secara luas tetap berpegang pada prinsip hukum internasional yang melarang akuisisi wilayah melalui perang. Sebagian besar negara menganggap pengakuan Trump sebagai pelanggaran terhadap konsensus global dan preseden berbahaya. Pernyataan Assad ini kemungkinan besar akan memperkuat pandangan tersebut, sekaligus menyoroti betapa sulitnya menemukan solusi damai untuk konflik-konflik di Timur Tengah selama isu-isu fundamental seperti kedaulatan wilayah terus diabaikan oleh kekuatan-kekuatan besar. Sindiran tersebut juga berpotensi memprovokasi respons dari Washington, atau setidaknya memicu diskusi lebih lanjut mengenai posisi AS dalam konflik Suriah-Israel yang kompleks.