Kemenhub Targetkan Bandara Husein Sastranegara Bandung Beroperasi Kembali September 2026
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi mengumumkan target pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara Bandung untuk layanan penerbangan komersial secara lebih aktif pada 17 September 2026 mendatang. Pernyataan dari Kemenhub ini menandai babak baru bagi konektivitas udara di Jawa Barat, khususnya bagi warga Bandung dan sekitarnya, setelah sebagian besar penerbangan komersial dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.
Kemenhub menetapkan target ini untuk memberikan kepastian waktu mengenai pemanfaatan kembali Bandara Husein Sastranegara, yang selama beberapa tahun terakhir peran utamanya lebih banyak difokuskan pada penerbangan non-komersial, militer, dan penerbangan berbaling-baling (propeller). Pengaktifan kembali bandara ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan aksesibilitas yang lebih dekat ke pusat kota Bandung, serta mendorong kembali geliat ekonomi dan pariwisata di wilayah tersebut.
Latar Belakang Pergeseran Operasional dan Peran Kertajati
Bandara Husein Sastranegara memiliki sejarah panjang sebagai gerbang utama udara bagi Jawa Barat. Namun, seiring dengan peningkatan jumlah penumpang dan keterbatasan kapasitas yang dimiliki, pemerintah memutuskan untuk membangun Bandara Kertajati di Majalengka sebagai hub utama. Sejak Oktober 2023, sebagian besar penerbangan jet komersial dari Bandara Husein Sastranegara telah secara bertahap dipindahkan ke Kertajati, menyisakan Husein untuk melayani rute-rute tertentu dengan pesawat berbaling-baling atau penerbangan VIP/charter.
Keputusan pergeseran ini didasari oleh beberapa faktor, termasuk kapasitas landasan pacu yang terbatas di Husein Sastranegara untuk mengakomodasi pesawat jet berbadan lebar, potensi pengembangan yang lebih besar di Kertajati, serta rencana jangka panjang untuk menjadikan Kertajati sebagai aerocity yang terintegrasi. Meskipun Kertajati menawarkan fasilitas modern dan kapasitas yang jauh lebih besar, lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota Bandung sempat menimbulkan tantangan tersendiri dalam hal aksesibilitas dan minat penumpang. Oleh karena itu, wacana untuk mengaktifkan kembali Bandara Husein Sastranegara untuk segmen pasar tertentu selalu menjadi perhatian serius.
Implikasi Pembukaan Kembali untuk Bandung dan Jawa Barat
Target pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara pada 2026 diprediksi akan membawa dampak positif yang signifikan bagi kota Bandung dan perekonomian Jawa Barat secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat diantisipasi:
- Peningkatan Aksesibilitas: Warga Bandung dan wisatawan akan mendapatkan pilihan akses udara yang lebih dekat ke pusat kota, mengurangi waktu tempuh dari dan menuju bandara.
- Stimulus Ekonomi dan Pariwisata: Kembalinya penerbangan komersial berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan domestik maupun internasional, yang pada gilirannya akan menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, dan industri kreatif di Bandung.
- Diversifikasi Rute dan Maskapai: Bandara Husein Sastranegara kemungkinan akan melayani rute-rute domestik jarak pendek atau menengah dengan jenis pesawat tertentu, mungkin juga menarik maskapai berbiaya rendah (LCC) yang mencari basis operasional strategis.
- Keseimbangan dan Sinergi dengan Kertajati: Pembukaan kembali Husein tidak serta-merta berarti persaingan langsung dengan Kertajati. Sebaliknya, hal ini dapat menciptakan sinergi di mana kedua bandara melayani segmen pasar yang berbeda, memperkuat ekosistem penerbangan di Jawa Barat. Kertajati tetap berpotensi menjadi hub internasional dan penerbangan jarak jauh, sementara Husein melayani kebutuhan regional yang lebih spesifik.
Tantangan dan Persiapan Menuju September 2026
Meskipun target telah ditetapkan, perjalanan menuju 17 September 2026 tentu tidak lepas dari sejumlah tantangan dan persiapan matang. Kemenhub, bersama operator bandara PT Angkasa Pura II, perlu memastikan beberapa aspek krusial:
- Peningkatan Infrastruktur: Evaluasi dan kemungkinan peningkatan fasilitas bandara, termasuk terminal penumpang, landasan pacu, dan sistem navigasi, untuk mendukung operasional yang lebih intensif.
- Regulasi dan Perizinan: Penyesuaian regulasi penerbangan dan perizinan operasional agar sesuai dengan status baru Bandara Husein Sastranegara sebagai bandara yang melayani penerbangan komersial secara lebih luas.
- Koordinasi Multi-Sektor: Koordinasi yang erat antara Kemenhub, Angkasa Pura II, pemerintah daerah, maskapai penerbangan, dan pihak terkait lainnya untuk menjamin kelancaran transisi dan operasional.
- Penetapan Segmen Pasar yang Jelas: Memutuskan jenis penerbangan, rute, dan maskapai yang paling cocok untuk Bandara Husein Sastranegara agar dapat melengkapi dan tidak tumpang tindih dengan peran Kertajati.
Keputusan untuk menargetkan pembukaan kembali pada 2026 menunjukkan perencanaan jangka panjang yang matang dari pemerintah, memberikan waktu yang cukup untuk persiapan infrastruktur dan koordinasi strategis. Ini juga menjadi indikasi bahwa pemerintah melihat potensi besar Bandara Husein Sastranegara untuk terus berkontribusi pada pembangunan ekonomi regional, di samping peran vital Bandara Kertajati sebagai hub utama Jawa Barat.

