Selasa, 30 Juni 2026 Samarinda, ID
Nasional

Fenomena Gen Z: Narkoba Kini Dianggap ‘Cupu’, Bukan Simbol Kebebasan

Generasi Z semakin menunjukkan komitmennya terhadap gaya hidup sehat, jauh dari penyalahgunaan narkoba, dan fokus pada pencapaian positif dalam hidup mereka. (Foto: cnnindonesia.com)

Makna ‘Keren’ yang Bergeser di Mata Gen Z

Generasi Z, yang kini mendominasi sebagian besar populasi usia produktif dan remaja, membawa definisi baru tentang apa itu 'keren'. Jika sebelumnya stigma keren seringkali diasosiasikan dengan pulang pagi, menunjukkan kebebasan yang cenderung tanpa batas, atau berani mengambil risiko demi pengakuan sosial, pandangan tersebut kini telah usang. Bagi mereka, penyalahgunaan narkoba atau perilaku berisiko tinggi lainnya justru dianggap 'cupu' atau tidak keren, bahkan cenderung merugikan diri sendiri dan masa depan.

Pergeseran paradigma ini bukan terjadi secara instan, melainkan hasil dari berbagai faktor yang membentuk pola pikir generasi digital-native ini. Mereka tumbuh di era informasi yang melimpah, di mana konsekuensi dari pilihan hidup dapat dengan mudah diakses dan disaksikan secara real-time melalui media sosial. Pemahaman mendalam tentang kesehatan fisik dan mental, serta kesadaran akan pentingnya masa depan yang cerah, menjadi pendorong utama di balik penolakan terhadap aktivitas negatif.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Akses Informasi dan Kesadaran Masa Depan

Gen Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya terhubung dengan internet sejak usia dini. Akses tak terbatas terhadap informasi membuat mereka lebih mudah memahami dampak buruk narkoba, baik dari segi kesehatan, sosial, maupun hukum. Kisah nyata tentang bahaya adiksi, atau bahkan statistik dari lembaga seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), tidak lagi menjadi informasi yang jauh, melainkan dapat ditemukan dalam genggaman mereka. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin mengandalkan informasi terbatas atau mitos semata.

Kesadaran akan masa depan juga menjadi prioritas. Generasi ini melihat pentingnya pendidikan tinggi, karier yang stabil, dan pengembangan diri sebagai investasi jangka panjang. Mereka memahami bahwa penyalahgunaan narkoba dapat menghancurkan mimpi dan membatasi potensi mereka. Oleh karena itu, energi dan waktu mereka lebih banyak dialokasikan untuk hal-hal yang produktif, seperti belajar, berorganisasi, mengembangkan hobi, atau bahkan membangun personal branding positif di media sosial.

Pola Pergaulan dan Tekanan Sosial Baru

Perubahan makna 'keren' ini juga memengaruhi dinamika pergaulan. Tekanan sosial untuk mencoba hal-hal berisiko demi diterima dalam lingkaran pertemanan kini bergeser. Sebaliknya, tekanan justru muncul untuk menunjukkan keautentikan, produktivitas, dan gaya hidup sehat. Mereka cenderung mencari komunitas atau teman yang memiliki visi serupa, yakni fokus pada pengembangan diri dan pencapaian positif.

Beberapa hal yang kini dianggap 'keren' oleh Gen Z antara lain:

  • Kesehatan Mental dan Fisik: Rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, serta aktif membahas isu kesehatan mental.
  • Pencapaian Akademis dan Non-Akademis: Berprestasi di sekolah, memenangkan kompetisi, atau aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.
  • Kreativitas dan Inovasi: Membuat konten digital, mengembangkan usaha rintisan, atau mengekspresikan diri melalui seni.
  • Keterlibatan Sosial: Aktif dalam kegiatan komunitas, menjadi relawan, atau menyuarakan isu-isu sosial.
  • Financial Literacy: Memiliki kesadaran finansial sejak muda, menabung, atau mulai berinvestasi.

Dampak Positif dan Tantangan ke Depan

Pergeseran pandangan Gen Z ini membawa dampak positif yang signifikan bagi masa depan bangsa. Potensi generasi muda yang sehat secara fisik dan mental, serta produktif, akan menjadi aset berharga. Ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah dan lembaga terkait seperti Badan Narkotika Nasional untuk terus beradaptasi dalam pendekatan pencegahan penyalahgunaan narkoba, agar tetap relevan dengan cara pandang dan gaya komunikasi Gen Z. Kampanye anti-narkoba perlu lebih inovatif, menekankan narasi tentang kesuksesan, potensi, dan gaya hidup sehat yang selaras dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh generasi ini.

Mengedukasi Gen Z berarti memahami bahasa mereka, platform yang mereka gunakan, dan nilai-nilai yang mereka anut. Ini bukan lagi sekadar larangan, tetapi tentang menawarkan alternatif gaya hidup yang lebih menarik, bermakna, dan, tentu saja, lebih 'keren' dalam arti sesungguhnya.