Kamis, 30 Juli 2026 Samarinda, ID
Internasional

Penyelamatan Dramatis Anak Anjing Laut Tersesat di Kanal Brussel, Memicu Isu Lingkungan

Tim penyelamat berhasil mengevakuasi anak anjing laut yang tersesat dari Kanal Maritim Scheldt di Brussel, Belgia, setelah berpekan-pekan mengarungi perairan perkotaan pada Sabtu (25/7/2020). (Foto: cnnindonesia.com)

BRUSSEL – Petugas berhasil mengevakuasi seekor anak anjing laut dari perairan Kanal Maritim Scheldt di Brussel, Belgia, pada Sabtu (25/7/2020). Penyelamatan ini dilakukan setelah anjing laut tersebut mengarungi jalur air perkotaan selama berminggu-minggu, memicu kekhawatiran publik dan ahli konservasi.

Tim gabungan dari Brussels Wildlife Rescue dan Dinas Pemadam Kebakaran Brussel melancarkan operasi penyelamatan yang rumit. Anak anjing laut tersebut, yang diperkirakan berusia beberapa bulan, pertama kali menarik perhatian warga sekitar dua minggu sebelumnya. Kehadirannya di kanal yang sibuk dengan lalu lintas perahu dan dikelilingi pemukiman padat penduduk menimbulkan kekhawatiran besar akan keselamatannya. Para ahli menduga anjing laut itu tersesat setelah terpisah dari induknya atau mengikuti sumber makanan yang membawanya jauh ke hulu melalui sistem Sungai Scheldt yang kompleks.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Perjalanan Panjang Anak Anjing Laut yang Tersesat

Kanal Maritim Scheldt, yang membentang dari Antwerpen hingga Brussel, berfungsi sebagai jalur air vital yang menghubungkan ibu kota Belgia dengan Laut Utara. Meskipun rute ini memungkinkan, sangat jarang seekor anjing laut, terutama yang masih sangat muda, menjelajah sejauh ini ke pedalaman. Anjing laut abu-abu (Halichoerus grypus) atau anjing laut pelabuhan (Phoca vitulina) merupakan spesies yang umum di perairan pesisir Belgia, namun kemunculannya hingga ke Brussel menandakan adanya disorientasi atau tekanan lingkungan yang signifikan.

Para peneliti satwa liar menyimpulkan bahwa anjing laut tersebut kemungkinan besar mengalami kelelahan dan dehidrasi ringan karena paparan air tawar atau payau dalam jangka waktu lama, yang tidak sesuai untuk habitat aslinya. Beberapa faktor mungkin berkontribusi pada perjalanan panjangnya yang tak terduga:

  • Anak anjing laut dapat terpisah dari induknya akibat badai hebat atau aktivitas kapal di laut.
  • Sistem Sungai Scheldt menawarkan jalur air yang panjang namun penuh rintangan dan potensi bahaya bagi satwa laut.
  • Lingkungan perkotaan dengan kebisingan konstan dan tingkat polusi yang tinggi dapat menyebabkan stres ekstrem pada hewan liar.
  • Perubahan iklim dan dinamika ekosistem laut berpotensi mendorong satwa mencari sumber makanan atau habitat baru yang lebih aman.

Upaya Penyelamatan dan Rehabilitasi Menyeluruh

Proses evakuasi memerlukan perencanaan cermat karena medan yang sulit dan sifat alami anjing laut yang cenderung lincah namun rentan terhadap stres. Tim penyelamat menggunakan jaring khusus dan perahu kecil untuk mengevakuasi anjing laut dengan aman. Begitu berhasil diangkat dari air, dokter hewan segera memeriksa anjing laut tersebut di lokasi. Pemeriksaan tidak menemukan luka serius, meskipun ia tampak kurus dan sedikit lemah.

Tim kemudian memindahkan anjing laut itu ke Pusat Rehabilitasi Satwa Liar SOS Dolfijn Belgia, yang memiliki fasilitas khusus untuk mamalia laut. Di pusat rehabilitasi, anak anjing laut tersebut akan menjalani masa pemulihan intensif. Program rehabilitasi meliputi pemberian nutrisi yang sesuai, pemantauan kesehatan secara ketat, dan adaptasi kembali ke lingkungan yang menyerupai habitat aslinya. Tujuan utama adalah mengembalikan kekuatan dan naluri alaminya agar siap dilepaskan kembali ke Laut Utara. Proses ini bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada respons individu anjing laut terhadap perawatan. Para ahli berharap anjing laut ini dapat kembali beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan laut setelah pulih.

Fenomena Satwa Liar di Perkotaan: Sebuah Peringatan Lingkungan

Kejadian anjing laut tersesat di Kanal Scheldt ini bukan insiden terisolasi. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan tentang satwa liar yang muncul di lingkungan perkotaan atau lokasi yang tidak biasa semakin meningkat. Fenomena ini seringkali menjadi indikator adanya perubahan signifikan dalam ekosistem alami. Degradasi habitat, polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan pola iklim global memaksa satwa untuk menjelajah lebih jauh dari wilayah jelajah normal mereka demi mencari makanan atau tempat berlindung. Ini mengingatkan kita pada kasus serupa di Belanda beberapa waktu lalu, ketika seekor lumba-lumba tersesat di sungai Maas dan berhasil diselamatkan setelah upaya kolektif.

Kasus-kasus seperti ini menyoroti urgensi konservasi lingkungan dan kebutuhan untuk menjaga koridor satwa liar. Peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya ekosistem laut dan dampak aktivitas manusia menjadi krusial. Organisasi konservasi terus menyerukan kepada masyarakat untuk melaporkan penampakan satwa liar yang aneh kepada pihak berwenang dan tidak mencoba melakukan penyelamatan sendiri, demi keselamatan hewan dan manusia.