Selasa, 25 Agustus 2026 Samarinda, ID
Ekonomi & Bisnis

Pertamina Patok TKDN 71,14% di 2025: Dorong Kemandirian Industri Nasional

Direksi PT Pertamina saat meninjau fasilitas produksi dalam negeri yang berpotensi meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) perusahaan, sebagai bagian dari komitmen target 2025. (Foto: cnnindonesia.com)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung kemandirian industri nasional dengan menargetkan pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 71,14% pada tahun 2025. Ambisi ini tidak hanya mencerminkan upaya perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan produk lokal, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi penguatan rantai pasok domestik secara menyeluruh. Kementerian Perindustrian menyambut baik inisiatif strategis ini, melihatnya sebagai langkah krusial dalam mengakselerasi pertumbuhan industri manufaktur dan mengurangi ketergantungan impor.

Pencapaian target TKDN ini, jika terealisasi sesuai rencana, akan menandai kontribusi signifikan Pertamina dalam program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang gencar didorong pemerintah. Dengan skala operasional dan nilai investasi yang masif, setiap persentase peningkatan TKDN di Pertamina memiliki efek berantai yang mampu menggerakkan ribuan unit usaha, mulai dari sektor hulu migas hingga industri penunjang lainnya. Ini merupakan realisasi nyata dari peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai agen pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi bagi bangsa.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Mendorong Kemandirian Industri Nasional

Pemerintah Indonesia secara konsisten menggaungkan pentingnya TKDN sebagai salah satu pilar utama untuk membangun fondasi ekonomi yang kuat dan berdaya saing. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong inovasi dan kapabilitas teknologi di dalam negeri. Pertamina, sebagai perusahaan energi terbesar di Indonesia, memegang peran sentral dalam mewujudkan visi tersebut. Dengan menyerap lebih banyak produk dan jasa dari pemasok lokal, Pertamina membantu industri domestik untuk tumbuh, meningkatkan kualitas, dan bahkan berpotensi menembus pasar global. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan P3DN mendorong peningkatan daya saing produk dalam negeri.

Strategi Pertamina Menuju Target 71,14%

Untuk mencapai target TKDN 71,14% pada tahun 2025, Pertamina telah merancang berbagai strategi komprehensif. Beberapa pendekatan utama yang dilakukan antara lain:

  • Penguatan Kemitraan Lokal: Membangun ekosistem yang kondusif bagi pemasok lokal melalui program pembinaan, pelatihan, dan pendampingan agar memenuhi standar kualitas dan kapasitas yang dibutuhkan Pertamina.
  • Pemanfaatan Teknologi Domestik: Memberikan prioritas penggunaan teknologi dan rekayasa dalam negeri dalam setiap proyek dan operasi, termasuk eksplorasi, produksi, pengolahan, hingga distribusi.
  • Inisiatif Riset dan Pengembangan (R&D): Mendorong kolaborasi dengan lembaga riset dan universitas lokal untuk mengembangkan solusi inovatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada komponen impor.
  • Kebijakan Pengadaan Progresif: Menerapkan kebijakan pengadaan yang secara jelas memihak pada produk dan jasa ber-TKDN tinggi, serta mengintegrasikan aspek TKDN dalam setiap tahap perencanaan proyek.

Strategi ini diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan angka TKDN secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif meningkatkan kapabilitas industri nasional.

Dampak Ekonomi dan Penguatan Rantai Pasok

Manfaat dari peningkatan TKDN Pertamina meluas ke berbagai sektor. Secara ekonomi, penyerapan produk lokal akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan. Industri-industri kecil dan menengah (IKM) akan mendapatkan peluang baru, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam konteks rantai pasok, kebijakan ini akan memperkuat ketahanan pasok domestik, mengurangi risiko keterlambatan pasokan dari luar negeri, serta membangun kemandirian logistik. Ini sangat krusial, terutama di tengah volatilitas geopolitik dan ekonomi global yang dapat mengganggu ketersediaan barang. Pertamina memahami bahwa penguatan rantai pasok domestik adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas energi dan ekonomi nasional.

Dukungan Pemerintah dan Sinergi Lintas Sektor

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, sebelumnya telah menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Pertamina ini. Menurutnya, BUMN memiliki peran strategis sebagai “agen pembangunan” yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjalankan misi sosial dan ekonomi. Sinergi antara Pertamina dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, serta lembaga terkait lainnya menjadi kunci keberhasilan program P3DN ini. Pemerintah terus mendorong agar perusahaan BUMN lainnya juga mengikuti jejak Pertamina dalam meningkatkan TKDN, sehingga dapat tercipta ekosistem industri yang lebih kuat dan berkelanjutan. Artikel sebelumnya yang membahas tentang dorongan pemerintah terhadap P3DN menunjukkan konsistensi kebijakan ini dalam menciptakan ekosistem industri yang lebih mandiri dan berdaya saing global.