Selasa, 25 Agustus 2026 Samarinda, ID
Internasional

Gedung Putih Klaim 40 Negara Bantu China Akali Tarif AS, Ekonomi Amerika Rugi Miliaran Dolar

Gedung Putih di Washington D.C., pusat keputusan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang kini menuduh puluhan negara terlibat skema penghindaran tarif China. (Foto: cnnindonesia.com)

Pemerintah Amerika Serikat menuduh 40 negara, termasuk sekutu dekat seperti Kanada dan anggota Uni Eropa, terlibat aktif membantu China menghindari tarif impor yang diberlakukan AS. Tuduhan serius ini datang langsung dari Gedung Putih, yang mengklaim praktik transshipment ilegal menyebabkan kerugian ekonomi Amerika hingga miliaran dolar setiap tahun dan secara fundamental merusak kebijakan perdagangan negeri Paman Sam.

Praktik penghindaran tarif ini, yang telah menjadi perhatian Washington selama beberapa waktu, kini mencapai tingkat yang dianggap merugikan secara signifikan. Ini bukan sekadar isu teknis perdagangan; tuduhan ini menyentuh inti hubungan diplomatik dan ekonomi AS dengan puluhan negara di seluruh dunia, memaksa peninjauan ulang terhadap integritas rantai pasokan global dan komitmen terhadap regulasi perdagangan internasional.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Modus Operandi Transshipment dan Dampaknya yang Merugikan

Transshipment adalah praktik pengiriman barang melalui negara ketiga untuk menyamarkan negara asal produk. Dalam konteks ini, barang-barang yang diproduksi di China dan seharusnya dikenai tarif tinggi oleh AS, pertama-tama dikirim ke salah satu dari 40 negara yang dituduh. Di negara perantara ini, asal barang mungkin diubah atau dipalsukan, kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat dengan label negara asal yang berbeda, sehingga terhindar dari bea masuk yang tinggi.

Proses ini seringkali melibatkan:

  • Pengubahan Dokumen Asal: Perusahaan memalsukan sertifikat asal atau dokumen pabean lainnya.
  • Pemrosesan Minimal: Barang hanya melewati proses pengemasan ulang atau modifikasi kecil di negara perantara agar memenuhi syarat sebagai produk dari negara tersebut.
  • Kolaborasi Antarnegara: Beberapa negara mungkin secara pasif atau aktif membiarkan praktik ini terjadi, seringkali demi keuntungan ekonomi domestik mereka dari aktivitas transit dan logistik.

Dampak ekonomi dari transshipment ilegal ini sangat besar. Selain hilangnya pendapatan bea masuk yang signifikan bagi AS, praktik ini menciptakan persaingan tidak sehat bagi produsen domestik Amerika yang mematuhi aturan. Produk China yang masuk tanpa tarif yang semestinya dapat dijual dengan harga lebih murah, menekan margin keuntungan perusahaan AS dan berpotensi mengakibatkan PHK. Miliaran dolar yang disebutkan Gedung Putih bukanlah angka sembarangan, melainkan estimasi kerugian nyata yang dirasakan sektor-sektor manufaktur dan pertanian Amerika.

Latar Belakang Ketegangan Dagang AS-China

Tuduhan ini berakar pada ‘perang dagang’ yang diinisiasi oleh pemerintahan Donald Trump pada tahun 2018. Washington saat itu memberlakukan tarif besar-besaran terhadap miliaran dolar produk China, menuduh Beijing melakukan praktik perdagangan tidak adil, pencurian kekayaan intelektual, dan subsidi negara yang merugikan. Meskipun ada perubahan administrasi, Presiden Joe Biden sebagian besar mempertahankan tarif-tarif tersebut, menunjukkan adanya konsensus bipartisan di AS mengenai kebutuhan untuk menekan China dalam hal praktik perdagangannya.

Praktik transshipment ini merupakan respons langsung terhadap kebijakan tarif tersebut. Perusahaan-perusahaan di China, mencari cara untuk mempertahankan daya saing produk mereka di pasar AS, menemukan celah melalui negara-negara perantara. Namun, bagi AS, ini bukan sekadar celah, melainkan pelanggaran serius terhadap aturan perdagangan yang dirancang untuk melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan nasionalnya.

Analisis lebih lanjut mengenai kompleksitas kebijakan perdagangan global dapat ditemukan di Council on Foreign Relations.

Daftar Negara yang Dituduh dan Reaksi Internasional

Identifikasi 40 negara yang dituduh, terutama adanya Kanada dan Uni Eropa, menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana Gedung Putih akan menindaklanjuti. Kanada adalah mitra dagang terbesar AS dan anggota perjanjian USMCA (sebelumnya NAFTA), sementara Uni Eropa adalah blok ekonomi terbesar di dunia dan sekutu strategis. Menuduh sekutu-sekutu ini terlibat dalam skema penghindaran tarif adalah langkah diplomatik yang berani dan dapat memicu ketegangan yang signifikan.

Sejauh ini, rincian 38 negara lainnya belum diungkapkan secara spesifik oleh Gedung Putih. Namun, kemungkinan besar daftar tersebut mencakup negara-negara dengan hubungan dagang yang kompleks dengan China, atau negara-negara dengan kontrol bea cukai yang relatif longgar yang dapat dimanfaatkan sebagai titik transit. Reaksi dari negara-negara yang dituduh diperkirakan beragam, mulai dari penolakan keras hingga janji untuk melakukan penyelidikan internal.

Langkah Gedung Putih Selanjutnya dan Konsekuensi Global

Dengan tuduhan yang telah dilontarkan, Gedung Putih kini menghadapi tekanan untuk menunjukkan bukti konkret dan mengambil tindakan tegas. Potensi langkah-langkah yang dapat diambil AS meliputi:

  • Peningkatan Penegakan Hukum: Memperketat pemeriksaan bea cukai, meningkatkan teknologi pelacakan asal barang, dan menjatuhkan denda berat kepada importir yang terlibat.
  • Tekanan Diplomatik: Melakukan negosiasi bilateral dengan negara-negara yang dituduh untuk mendesak mereka memperkuat kontrol ekspor mereka sendiri.
  • Sanksi Perdagangan: Meskipun ekstrem, AS mungkin mempertimbangkan sanksi perdagangan terhadap negara-negara yang berulang kali ditemukan memfasilitasi transshipment ilegal, meskipun ini berisiko memperburuk hubungan diplomatik.
  • Perubahan Kebijakan: Mengkaji ulang aturan asal barang (rules of origin) untuk membuatnya lebih sulit bagi barang-barang untuk menyamarkan identitas aslinya.

Kasus ini menyoroti kerapuhan dalam sistem perdagangan global dan tantangan berkelanjutan dalam menegakkan aturan di tengah persaingan ekonomi yang ketat. Konsekuensi dari penyelidikan dan tindakan AS ini bisa sangat luas, berpotensi mengubah pola perdagangan internasional, memperkuat kontrol rantai pasokan, dan menguji batas-batas aliansi ekonomi di panggung global. Keberanian Gedung Putih melayangkan tuduhan ini menandakan keseriusan masalah, yang menuntut perhatian dan respons kritis dari komunitas internasional.