Senin, 28 September 2026 Samarinda, ID
Event / Acara

Bepelas VI Seluang Mudik: Wujud Erau Kutai 2026

SAMARINDA, nusavox.com — Kawasan Museum Mulawarman dan Kedaton Kutai di Tenggarong kembali bergemuruh pada Sabtu malam (26/9/2026). Ratusan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan rangkaian Festival Erau Adat Kutai 2026. Dalam kesempatan ini, masyarakat berkumpul untuk merayakan perjumpaan antara tradisi, sejarah, dan nilai-nilai kebersamaan.

Salah satu agenda utama yang menyedot perhatian publik adalah ritual Bepelas VI Seluang Mudik. Tradisi ini bukan sekadar rangkaian seremoni adat biasa. Lebih dari itu, prosesi tersebut menyampaikan pesan kuat mengenai kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Pihak panitia mengusung tema “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya – Raja Menjamu Rakyatnya” pada Festival Erau Adat Kutai tahun ini. Tema tersebut menegaskan bahwa kebudayaan tidak hanya membicarakan kisah masa lalu. Sebaliknya, tradisi Kutai terus merawat hubungan sosial, kebersamaan, dan identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.

Merawat Akar Sejarah di Tengah Modernisasi

Ritual Bepelas VI Seluang Mudik menjadi momentum penting untuk menempatkan tradisi Kutai di tengah kehidupan masyarakat modern. Meskipun modernisasi bergerak cepat, ritual adat seperti ini memberi ruang bagi generasi muda untuk kembali mengenal akar kebudayaan mereka.

Oleh karena itu, Erau berfungsi lebih dari sekadar tontonan visual. Idealnya, festival ini menjadi wadah untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat Kutai Kartanegara.

Sementara itu, kawasan Museum Mulawarman dan Kedaton Kutai bukan sekadar menjadi latar tempat kegiatan. Kedua bangunan bersejarah ini berdiri sebagai simbol perjalanan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara dalam membangun kebudayaan di tanah Kalimantan Timur.

Makna Filosofis “Raja Menjamu Rakyatnya”

Selain menyajikan prosesi sakral, tema “Raja Menjamu Rakyatnya” memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Tema ini menggambarkan simbol keterbukaan dan kebersamaan antara Sultan dan masyarakat. Sultan hadir bukan semata-mata sebagai penguasa, melainkan sebagai pengayom yang menjaga hubungan harmonis dengan rakyatnya.

Di titik inilah festival Erau memiliki peran yang sangat luas. Para pemangku adat menyadari bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan mempertahankan ritual fisik semata. Oleh sebab itu, generasi muda harus memahami, mewarisi, dan merasakan makna tradisi tersebut secara langsung.

Pada akhirnya, prosesi Bepelas VI Seluang Mudik memberikan pengingat penting bagi semua pihak. Di tengah arus globalisasi, identitas budaya tetap membutuhkan ruang untuk hidup, tumbuh, dan diwariskan ke masa depan.

Erau bukan sekadar perayaan tahunan. Festival ini berdiri sebagai cermin perjalanan panjang masyarakat Kutai dalam merawat jembatan antara sejarah, adat, pemimpin, dan rakyat.

(Aprl)