JAKARTA – Lembaga riset ekonomi CORE Indonesia secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang dicanangkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Penilaian kritis ini muncul mengingat rekam jejak Indonesia yang kesulitan mencapai angka pertumbuhan 5,5 persen dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa target yang lebih ambisius tersebut kemungkinan terlalu optimistis tanpa terobosan signifikan.
Realitas Historis dan Tantangan Mencapai 6 Persen
Analisis CORE Indonesia menyoroti sebuah fakta yang sering terabaikan: bahwa pencapaian pertumbuhan di atas 5,5 persen adalah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan sebelum pandemi. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian dan dinamika ekonomi domestik yang kompleks, target 6 persen memerlukan fondasi yang jauh lebih kokoh dari sekadar proyeksi. CORE menggarisbawahi beberapa poin penting:
- Rendahnya Basis Pertumbuhan: Selama satu dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia seringkali berada di kisaran 5 persen, bahkan cenderung di bawahnya. Mencapai 6 persen membutuhkan akselerasi yang drastis.
- Ketergantungan Komoditas: Meskipun harga komoditas sempat memberikan dorongan, volatilitasnya yang tinggi menjadikan sumber pertumbuhan ini tidak berkelanjutan. Diversifikasi ekonomi riil masih menjadi pekerjaan rumah.
- Investasi dan Produktivitas: Peningkatan investasi yang signifikan dan peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah kunci. Namun, iklim investasi masih menghadapi tantangan seperti birokrasi, perizinan, dan kepastian hukum yang seringkali dikeluhkan pelaku usaha.
- Konsumsi Domestik: Sebagai tulang punggung ekonomi, konsumsi domestik perlu dijaga daya belinya. Tekanan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global bisa mengerem laju konsumsi masyarakat.
Dinamika Ekonomi Global dan Respons Kebijakan
Target pertumbuhan ekonomi tidak bisa lepas dari bayang-bayang kondisi ekonomi global. Perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik, dapat berdampak langsung pada kinerja ekspor Indonesia. Selain itu, kebijakan moneter ketat yang masih berlanjut di banyak negara maju berpotensi menarik modal keluar dan menekan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas harga dan investasi.
Untuk mengamankan target ambisius seperti 6 persen, pemerintah perlu merumuskan dan mengimplementasikan serangkaian kebijakan yang tidak hanya reaktif tetapi juga proaktif dan transformatif. Kebijakan ini harus berfokus pada peningkatan nilai tambah industri, pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, serta percepatan digitalisasi di berbagai sektor. Tanpa reformasi struktural yang berani dan konsisten, target tersebut berisiko menjadi sekadar angka di atas kertas.
Menghubungkan Proyeksi Kini dengan Catatan Historis
Apabila melihat data historis, Indonesia memang pernah mencatat pertumbuhan di atas 6 persen, terutama di era pra-krisis finansial global dan beberapa tahun pasca-reformasi. Namun, kondisi ekonomi saat itu jauh berbeda dengan lanskap saat ini yang diwarnai disrupsi teknologi, isu keberlanjutan, dan fragmentasi geopolitik. Artikel sebelumnya yang membahas pencapaian dan tantangan ekonomi Indonesia setelah Pemilu 2024, contohnya, menggarisbawahi betapa kompleksnya situasi ekonomi saat ini dan perlunya strategi yang adaptif.
Pemerintah perlu mengambil pelajaran dari periode-periode tersebut dan menyadari bahwa momentum pertumbuhan tinggi harus diciptakan melalui kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis, didukung oleh regulasi yang memudahkan bisnis dan meningkatkan daya saing global. Ini bukan hanya tentang angka, melainkan tentang membangun fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Strategi Pemerintah: Antara Optimisme dan Realisme
Meskipun ada keraguan dari CORE Indonesia, pemerintah tentu memiliki justifikasi untuk menargetkan angka tersebut. Potensi pendorong pertumbuhan dapat berasal dari berbagai inisiatif, seperti hilirisasi industri mineral dan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur yang masif, serta pengembangan ekonomi hijau. Namun, tantangan utama adalah bagaimana mengoptimalkan potensi ini agar dapat menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan dan merata.
Diperlukan strategi yang transparan dan terukur untuk mencapai target 6 persen, termasuk peta jalan yang jelas untuk menarik investasi asing langsung (FDI) berkualitas, meningkatkan ekspor non-komoditas, dan memperkuat sektor manufaktur. Selain itu, upaya pemberdayaan UMKM dan peningkatan kapabilitas digital masyarakat juga krusial untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif.
Singkatnya, target pertumbuhan ekonomi 6 persen di RAPBN 2027 adalah sebuah ambisi yang menantang. Realisasi angka ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk merespons tantangan domestik dan global dengan kebijakan yang tepat, serta komitmen kuat untuk melakukan reformasi struktural yang seringkali tidak populer namun fundamental bagi kemajuan ekonomi jangka panjang.

