Inflasi Tarakan Juni 2026 Naik 0,45 Persen, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar
TARAKAN, nusavox.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat Inflasi Tarakan Juni 2026 sebesar 0,45 persen secara bulanan (month to month/m-to-m). Angka tersebut menunjukkan harga sejumlah barang dan jasa kembali meningkat setelah Kota Tarakan juga mengalami inflasi pada Mei 2026.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit menjadi penyebab utama inflasi pada Juni 2026. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara, harga bawang merah, dan bensin turut mendorong peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK).
“Inflasi month to month Kota Tarakan pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,45 persen. Cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi bersama angkutan udara, bawang merah, dan bahan bakar kendaraan,” jelas Umar Riyadi.
Cabai Rawit Dominasi Inflasi Tarakan Juni 2026
BPS mencatat cabai rawit sebagai komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,0873 persen. Selanjutnya, angkutan udara menyumbang 0,0729 persen, bawang merah 0,0726 persen, bensin 0,0713 persen, serta kue basah 0,0642 persen.
Selain itu, ikan layang atau ikan benggol memberikan andil 0,0360 persen, minyak goreng 0,0212 persen, seng 0,0207 persen, tomat 0,0205 persen, dan martabak 0,0181 persen.
Menurut Umar Riyadi, kenaikan harga komoditas pangan dan biaya transportasi masih menjadi faktor yang paling memengaruhi inflasi di Kota Tarakan.
Kelompok Makanan dan Transportasi Beri Andil Terbesar
Berdasarkan kelompok pengeluaran, BPS menempatkan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,23 persen.
Sementara itu, Kelompok Transportasi menyumbang 0,14 persen terhadap inflasi bulanan. Kemudian, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga serta Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga masing-masing memberikan andil 0,04 persen.
Di sisi lain, Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran menyumbang 0,03 persen, sedangkan Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan memberikan andil 0,01 persen.
Beberapa Komoditas Justru Mengalami Deflasi
Meski inflasi meningkat, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga. Misalnya, kangkung menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil -0,0482 persen.
Selain kangkung, telur ayam ras menyumbang deflasi -0,0420 persen, emas perhiasan -0,0363 persen, angkutan laut -0,0341 persen, dan daging ayam ras -0,0166 persen.
Tidak hanya itu, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, dan pembersih lantai juga ikut menahan laju inflasi pada Juni 2026.
Inflasi Tahunan Tarakan Lebih Tinggi Dibanding Nasional
Selain menghitung inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi kalender (year to date/y-to-d) Kota Tarakan hingga Juni 2026 sebesar 1,87 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,62 persen.
Jika dibandingkan dengan daerah lain, inflasi bulanan Kota Tarakan sebesar 0,45 persen sama dengan inflasi Provinsi Kalimantan Utara. Namun, angka tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,44 persen.
Untuk inflasi kalender, Kota Tarakan mencatat 1,87 persen. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan Kalimantan Utara yang mencapai 1,90 persen. Akan tetapi, capaian tersebut masih lebih tinggi daripada inflasi nasional sebesar 1,79 persen.
Begitu pula dengan inflasi tahunan. Kota Tarakan membukukan inflasi sebesar 3,62 persen, sedangkan Kalimantan Utara mencatat 3,30 persen dan nasional sebesar 3,34 persen.
Umar Riyadi mengingatkan bahwa inflasi tahunan tersebut perlu menjadi perhatian semua pihak. Apabila tren kenaikan harga pada semester kedua mengikuti pola tahun sebelumnya, maka inflasi hingga akhir 2026 berpotensi tetap berada di kisaran 3,62 persen atau bahkan melampaui target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu terus menjaga pasokan dan kelancaran distribusi komoditas strategis. Dengan demikian, tekanan inflasi dapat dikendalikan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas pangan dan transportasi yang paling berpengaruh terhadap inflasi,” tutup Umar Riyadi.
Penulis : Aprillia

