Selasa, 1 September 2026 Samarinda, ID
Internasional

Penyair Iran Kecam Donald Trump dengan Puisi di Pemakaman Presiden Raisi, Soroti Sentimen Anti-AS

Seorang penyair melantunkan karyanya di hadapan ribuan pelayat dalam upacara pemakaman kenegaraan Presiden Iran Ebrahim Raisi, di mana sentimen anti-Amerika kerap disuarakan. (Foto: cnnindonesia.com)

Ribuan pelayat yang memenuhi jalanan Tehran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Presiden Ebrahim Raisi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian menjadi saksi bisu sebuah penampilan yang sarat pesan politik. Di tengah suasana duka dan patriotisme yang kental, seorang penyair tampil di panggung, melantunkan puisi satir yang secara terang-terangan menyerang mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Momen ini bukan sekadar ekspresi seni, melainkan refleksi mendalam dari sentimen anti-Amerika yang telah lama berakar dan terus diperkuat dalam narasi politik Iran.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Penampilan penyair tersebut, yang disiarkan langsung oleh media pemerintah, dengan cepat menarik perhatian publik. Dengan kata-kata yang tajam dan berapi-api, sang penyair menyindir kebijakan Trump terhadap Iran, khususnya penarikannya dari kesepakatan nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) dan penerapan sanksi ekonomi “tekanan maksimum”. Reaksi dari kerumunan pelayat menunjukkan bahwa pesan tersebut resonan, dengan teriakan “Matilah Amerika!” yang sesekali pecah, menggarisbawahi dukungan terhadap retorika anti-Barat yang kerap digaungkan oleh para pemimpin Iran.

Puisi Sebagai Corong Politik di Iran

Dalam sejarah Iran, puisi bukan hanya bentuk seni, melainkan juga alat yang ampuh untuk menyampaikan pesan politik, baik sebagai kritik terhadap penguasa maupun sebagai instrumen propaganda. Dari era kekaisaran hingga Republik Islam modern, penyair sering kali menjadi suara hati rakyat atau corong ideologi pemerintah.

  • Tradisi Panjang: Puisi telah lama menjadi bagian integral dari budaya dan identitas Iran, menjadikannya medium yang sangat efektif untuk komunikasi massa.
  • Simbol Perlawanan: Sepanjang sejarah, puisi digunakan untuk menyuarakan perlawanan terhadap penindasan atau kebijakan asing.
  • Mobilisasi Publik: Dalam konteks kontemporer, puisi sering dipakai untuk memobilisasi dukungan publik terhadap kebijakan domestik atau pandangan geopolitik tertentu, seperti anti-imperialisme.

Pemanfaatan panggung pemakaman kenegaraan, sebuah momen penting yang menarik perhatian jutaan warga, untuk melantunkan puisi semacam ini menunjukkan strategi komunikasi yang disengaja. Ini bertujuan untuk memperkuat solidaritas internal dan memproyeksikan citra ketahanan di mata komunitas internasional.

Latar Belakang Ketegangan Abadi AS-Iran

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah ditandai oleh ketegangan yang mendalam sejak Revolusi Islam 1979. Berbagai insiden, mulai dari krisis sandera, perang Irak-Iran, pengembangan program nuklir Iran, hingga intervensi di Timur Tengah, terus memanaskan dinamika kedua negara.

Era kepresidenan Donald Trump, dengan kebijakan “tekanan maksimum”-nya, memang menjadi salah satu periode terpanas. Penarikan AS dari JCPOA pada tahun 2018, yang diikuti dengan penerapan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, secara signifikan memperburuk kondisi ekonomi Iran dan meningkatkan ketidakpercayaan. Dewan Hubungan Luar Negeri (CFR) mencatat bahwa langkah-langkah ini dimaksudkan untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan persyaratan yang lebih ketat, namun justru memicu sikap yang lebih keras dari Teheran.

Meninggalnya Presiden Raisi dalam kecelakaan helikopter, meskipun tragis, tidak mengubah dasar-dasar kebijakan luar negeri Iran. Sistem politik Iran, yang didominasi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan lembaga-lembaga konservatif, cenderung mempertahankan garis keras dalam menghadapi apa yang mereka sepersepsi sebagai ancaman asing, terutama dari Amerika Serikat dan Israel. Pidato-pidato pada pemakaman Raisi mencerminkan konsistensi ini, menegaskan kembali komitmen Iran terhadap prinsip-prinsip revolusionernya.

Analisis Pesan dan Implikasinya

Pemilihan Donald Trump sebagai target sindiran dalam puisi ini memiliki alasan strategis. Sebagai arsitek utama kebijakan yang paling menyakitkan bagi Iran dalam beberapa tahun terakhir, namanya menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni Amerika. Momen ini sekaligus menjadi sinyal bahwa, terlepas dari perubahan kepemimpinan di Iran, agenda anti-AS akan tetap menjadi pilar kebijakan luar negeri mereka.

Implikasi dari kejadian ini cukup signifikan:

  • Konsolidasi Domestik: Menguatkan narasi resmi pemerintah di kalangan warga Iran, menyatukan mereka di bawah bendera perlawanan terhadap musuh bersama.
  • Sinyal Internasional: Mengirimkan pesan kepada dunia bahwa Iran tidak akan gentar menghadapi tekanan eksternal, bahkan setelah kehilangan seorang presiden.
  • Prediksi Politik: Jika Trump kembali mencalonkan diri dan terpilih sebagai presiden AS, tensi antara kedua negara kemungkinan besar akan kembali meningkat ke level yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Peristiwa di pemakaman Presiden Raisi bukan insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola komunikasi politik Iran yang lebih luas. Ini menegaskan bahwa sentimen anti-Amerika, yang tertanam kuat dalam retorika Revolusi Islam, akan terus menjadi elemen kunci dalam identitas nasional dan kebijakan luar negeri Iran, membentuk dinamika regional dan global di tahun-tahun mendatang.