JAKARTA – Dua sosok sentral dalam sejarah kemerdekaan dan pembangunan ekonomi Indonesia, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta dan tokoh ekonom legendaris Soemitro Djojohadikusumo, ternyata berbagi almamater yang sama: Erasmus Universiteit Rotterdam (EUR) di Belanda. Fakta ini bukan sekadar catatan sampingan, melainkan sebuah jejak intelektual krusial yang membentuk fondasi pemikiran ekonomi dan kenegaraan para pendiri bangsa.
Mohammad Hatta, dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, dan Soemitro Djojohadikusumo, arsitek ekonomi Indonesia modern sekaligus ayah dari Prabowo Subianto, keduanya menimba ilmu di institusi yang kala itu bernama Nederlandsche Handelshoogeschool. Pengalaman pendidikan di jantung Eropa ini membekali mereka dengan perspektif global dan pemahaman mendalam tentang teori ekonomi yang kemudian mereka adaptasi untuk konteks perjuangan dan pembangunan Indonesia.
Jejak Pendidikan di Rotterdam: Landasan Pemikiran Bangsa
Erasmus Universiteit Rotterdam, khususnya fakultas ekonomi dan bisnisnya, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat keunggulan studi ekonomi di Eropa. Lingkungan akademik yang progresif pada awal abad ke-20 menjadi kawah candradimuka bagi pemikiran kritis. Bagi Hatta dan Soemitro, masa studi ini lebih dari sekadar memperoleh gelar; ini adalah periode pembentukan ideologi dan strategi untuk masa depan bangsa yang mereka cintai.
Di Rotterdam, mereka tidak hanya mempelajari teori-teori ekonomi klasik, tetapi juga berinteraksi dengan pemikiran sosialisme dan nasionalisme yang tengah berkembang di Eropa. Lingkungan ini memungkinkan mereka untuk menganalisis kelemahan sistem kolonial dan merumuskan alternatif ekonomi yang berpihak pada rakyat. Diskusi intensif dengan sesama mahasiswa dan para profesor di EUR turut memperkaya wawasan mereka, mengasah kemampuan analisis, dan memperkuat keyakinan akan pentingnya kemandirian ekonomi bagi negara yang berdaulat.
Mohammad Hatta: Arsitek Ekonomi Kooperatif dan Pro-Rakyat
Setelah kembali ke tanah air, ilmu yang didapat Mohammad Hatta dari EUR menjadi pilar utama dalam pemikirannya tentang ekonomi Indonesia. Hatta tidak hanya dikenal sebagai proklamator dan Wakil Presiden, tetapi juga sebagai pemikir ekonomi yang kokoh dengan ideologi ekonomi kerakyatan dan koperasi. Baginya, koperasi adalah soko guru perekonomian nasional, sebuah sistem yang mengedepankan asas kekeluargaan, gotong royong, dan pemerataan kesejahteraan, bukan akumulasi kekayaan individual semata.
Pemikiran Hatta tertuang jelas dalam pasal-pasal konstitusi dan kebijakan ekonomi awal Republik. Ia meyakini bahwa pembangunan ekonomi harus dimulai dari basis rakyat, dengan pemberdayaan usaha kecil dan menengah serta penguasaan sumber daya vital oleh negara. Kontribusinya dalam merumuskan dasar-dasar ekonomi Pancasila dan konstitusi menjadi warisan tak ternilai yang terus relevan hingga kini. Pendidikan di EUR memberinya perangkat konseptual untuk menformulasikan visi ekonomi yang berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan.
Soemitro Djojohadikusumo: Sang Teknokrat dan Visioner Ekonomi Modern
Soemitro Djojohadikusumo, yang juga merupakan lulusan EUR, melanjutkan estafet pemikiran ekonomi Hatta namun dengan pendekatan yang lebih pragmatis dan teknokratis, disesuaikan dengan tantangan pembangunan pasca-kemerdekaan. Sebagai salah satu ekonom terkemuka dan menteri di berbagai kabinet, Soemitro memainkan peran krusial dalam merancang cetak biru ekonomi Indonesia.
Beberapa kontribusi pentingnya meliputi:
- Merumuskan kerangka perencanaan pembangunan jangka panjang.
- Mengembangkan konsep industrialisasi berbasis substitusi impor.
- Membangun lembaga-lembaga keuangan dan pendidikan ekonomi.
- Mendorong investasi dan modernisasi sektor-sektor strategis.
Kecerdasan dan visi Soemitro, yang ditempa di Rotterdam, membuatnya mampu menerjemahkan teori-teori ekonomi kompleks menjadi kebijakan yang adaptif dan berdampak nyata. Ia adalah figur yang mampu menjembatani idealisme perjuangan kemerdekaan dengan tuntutan realitas pembangunan ekonomi modern. Pemikirannya menjadi landasan bagi banyak kebijakan ekonomi yang diterapkan di era Orde Baru, membentuk struktur ekonomi yang kita kenal sekarang.
Warisan Abadi dan Relevansi Masa Kini
Kisah Mohammad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo menunjukkan betapa signifikannya pendidikan di Erasmus Universiteit Rotterdam dalam membentuk karakter dan visi para pemimpin bangsa. Mereka adalah bukti nyata bahwa investasi dalam pendidikan, terutama di institusi bergengsi, dapat menghasilkan pemimpin dengan kapasitas intelektual dan moral yang mampu membawa bangsanya menuju kemajuan.
Warisan pemikiran kedua tokoh ini, mulai dari ekonomi kerakyatan Hatta hingga cetak biru pembangunan Soemitro, terus menjadi referensi penting dalam perdebatan dan formulasi kebijakan ekonomi Indonesia. Artikel ini adalah pengingat bahwa fondasi kuat yang diletakkan oleh para pendiri, termasuk melalui pendidikan tinggi mereka di luar negeri, adalah kunci untuk memahami arah dan tantangan pembangunan ekonomi kita saat ini dan di masa depan. Pemahaman atas jejak intelektual mereka adalah langkah esensial untuk membangun strategi ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

