Selasa, 25 Agustus 2026 Samarinda, ID
Daerah

Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Bandara Banjarbaru: 12 Penerbangan Terdampak, Penumpang Diminta Waspada

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan menyelimuti area Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, mengganggu aktivitas penerbangan dan jarak pandang. (Foto: cnnindonesia.com)

Pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah Banjarbaru akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menciptakan kekacauan signifikan pada sektor transportasi udara. Sedikitnya 12 jadwal penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami gangguan serius pada hari ini. Insiden ini memaksa otoritas bandara mengambil langkah antisipatif demi keselamatan penumpang dan awak pesawat, seraya mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kesehatan dan ketidaknyamanan perjalanan.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara masif di beberapa titik sekitar Banjarbaru menghasilkan volume asap tebal yang mengurangi jarak pandang secara drastis, terutama di area landasan pacu dan jalur pendaratan. Kondisi ini membahayakan operasional penerbangan yang sangat bergantung pada visibilitas optimal. Puluhan ribu calon penumpang dari dan menuju Banjarbaru harus menghadapi penundaan keberangkatan, bahkan kemungkinan pembatalan atau pengalihan rute ke bandara terdekat jika kondisi tidak memungkinkan pendaratan atau lepas landas.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Manajemen Bandara Syamsudin Noor secara proaktif telah mengeluarkan peringatan bagi seluruh maskapai dan penumpang. Mereka menginstruksikan agar calon penumpang tiba lebih awal dari jadwal yang seharusnya untuk mengantisipasi proses pengecekan yang lebih lama serta memastikan ketersediaan informasi terbaru. Selain itu, penumpang juga sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan pernapasan dengan menggunakan masker, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit sensitif terhadap polusi udara.

Dampak Luas Kabut Asap Terhadap Transportasi Udara

Gangguan penerbangan akibat kabut asap bukanlah hal baru di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan yang memang rentan terhadap karhutla. Ketika visibilitas menurun di bawah batas aman yang ditetapkan oleh standar penerbangan internasional, pesawat tidak diizinkan untuk lepas landas maupun mendarat. Hal ini berpotensi menyebabkan:

  • Penundaan (Delay): Penerbangan tertunda hingga jarak pandang membaik.
  • Pengalihan (Diversion): Pesawat yang seharusnya mendarat di Bandara Syamsudin Noor terpaksa dialihkan ke bandara alternatif seperti Balikpapan atau Makassar.
  • Pembatalan (Cancellation): Jika kondisi asap tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dalam jangka waktu lama, penerbangan bisa dibatalkan seluruhnya.

Penundaan dan pengalihan ini tidak hanya merugikan maskapai dari segi operasional dan finansial, tetapi juga menimbulkan kerugian waktu dan materi bagi penumpang, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal lanjutan atau kepentingan mendesak. Psikologis penumpang juga terganggu oleh ketidakpastian dan antrean panjang di bandara.

Respons dan Penanganan Kebakaran Hutan

Pihak berwenang, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, TNI, Polri, dan Manggala Agni, terus berupaya keras memadamkan api yang menjadi sumber kabut asap. Namun, medan yang sulit dijangkau, keberadaan lahan gambut yang mudah terbakar, dan kondisi cuaca kering ekstrem menjadi tantangan besar. Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan melalui darat tetapi juga melalui udara dengan water bombing, meskipun efektivitasnya seringkali terkendala oleh luasnya area kebakaran dan tiupan angin yang menyebarkan api.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, mengingat riwayat karhutla yang kerap melanda wilayah ini setiap musim kemarau. Seperti yang telah kami ulas dalam artikel sebelumnya, “Ancaman Asap Tahunan: Mengapa Karhutla Terus Berulang di Kalimantan Selatan”, masalah karhutla di Kalimantan merupakan siklus tahunan yang membutuhkan penanganan komprehensif dari hulu ke hilir. Koordinasi antarlembaga dan partisipasi aktif masyarakat dalam pencegahan menjadi kunci utama mengurangi risiko terulangnya kejadian serupa.

Implikasi Kesehatan dan Lingkungan

Selain gangguan penerbangan, kabut asap karhutla membawa implikasi serius terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Partikel-partikel mikroskopis yang terkandung dalam asap (PM2.5) dapat dengan mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, memicu berbagai penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, bronkitis, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil adalah yang paling berisiko.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Banjarbaru dilaporkan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, menandakan bahwa kualitas udara sangat buruk dan berbahaya untuk dihirup dalam jangka waktu lama. Secara lingkungan, karhutla menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem, dan kontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, memperparah perubahan iklim global. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang dampak kesehatan kabut asap di tautan ini: Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan.

Antisipasi dan Solusi Jangka Panjang

Untuk mengatasi masalah karhutla yang terus berulang dan dampaknya, diperlukan strategi jangka panjang yang berkelanjutan. Hal ini mencakup:

  • Peningkatan Pencegahan: Mengaktifkan kembali patroli rutin, edukasi masyarakat tentang bahaya pembakaran lahan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran.
  • Restorasi Ekosistem: Menggalakkan program restorasi lahan gambut yang rusak agar tidak mudah terbakar.
  • Teknologi Pemantauan: Pemanfaatan satelit dan drone untuk deteksi dini titik api dan pemantauan kualitas udara secara real-time.
  • Kesiapsiagaan Bencana: Peningkatan kapasitas tim pemadam kebakaran dan penyediaan alat pelindung diri (APD) yang memadai bagi masyarakat di daerah terdampak.

Gangguan penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru ini adalah pengingat keras bahwa masalah karhutla bukan hanya isu lokal, melainkan permasalahan lintas sektor yang menuntut perhatian serius dan tindakan kolektif. Tanpa upaya terpadu, masyarakat dan berbagai sendi kehidupan akan terus-menerus terganggu oleh ancaman asap tahunan ini.