PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat angka yang mengkhawatirkan terkait insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya. Hingga 9 Juli 2024, BPBD mengidentifikasi sebanyak 306 kejadian karhutla. Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) menjadi perhatian utama karena menyumbang kasus terbanyak, seiring dengan meningkatnya risiko bencana ini pada puncak musim kemarau yang sedang berlangsung.
Peningkatan Signifikan Kasus Karhutla di Musim Kemarau
Data 306 kasus karhutla ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya yang relatif lebih tenang. Kondisi cuaca ekstrem dengan suhu tinggi dan curah hujan minim menjadi pemicu utama. BPBD Sumsel secara aktif memantau titik-titik panas (hotspot) melalui citra satelit dan mengerahkan tim di lapangan untuk verifikasi. Peningkatan ini patut menjadi alarm bagi semua pihak, mengingat Sumsel memiliki sejarah panjang perjuangan melawan karhutla yang menimbulkan dampak luas.
- PALI Sebagai Wilayah Paling Rawan: Kasus terbanyak di PALI mengindikasikan adanya faktor-faktor pemicu spesifik di daerah tersebut, seperti lahan gambut yang kering, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, atau aktivitas ilegal lainnya. Karakteristik geografis PALI yang memiliki lahan gambut yang luas membuatnya sangat rentan terbakar, bahkan dari sumber api kecil sekalipun.
- Ancaman Musim Kemarau Berkelanjutan: Musim kemarau diprediksi masih akan berlanjut dan mencapai puncaknya. Kondisi ini memperparah kekeringan lahan, terutama di area gambut dan semak belukar, meningkatkan potensi kebakaran yang lebih besar dan sulit dikendalikan.
Dampak Karhutla Meluas Ancaman Lingkungan dan Kesehatan
Karhutla bukan sekadar masalah lokal, melainkan bencana multisektoral yang mengancam lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Dampak kabut asap akibat karhutla dapat menyebar hingga ke provinsi tetangga bahkan negara lain, menciptakan krisis kesehatan masyarakat dan gangguan transportasi.
- Kesehatan Masyarakat Terancam: Kabut asap mengandung partikel berbahaya yang dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, dan gangguan pernapasan lainnya. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi yang paling terdampak.
- Kerusakan Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati: Kebakaran menghancurkan hutan dan lahan gambut, menghilangkan habitat satwa liar, dan mengurangi keanekaragaman hayati. Pemulihan ekosistem membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun.
- Gangguan Ekonomi dan Transportasi: Kabut asap dapat mengganggu jadwal penerbangan, pelayaran, dan transportasi darat, mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan sektor bisnis.
- Kontribusi Perubahan Iklim: Pembakaran lahan gambut melepaskan sejumlah besar emisi karbon dioksida ke atmosfer, berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.
Upaya Penanggulangan dan Pencegahan BPBD dan Lintas Sektor
Menyikapi situasi ini, BPBD Sumsel bersama berbagai pemangku kepentingan telah mengintensifkan upaya pencegahan dan penanggulangan. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi ancaman karhutla yang kompleks. Mereka belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana masalah karhutla di Sumsel (selengkapnya di BNPB) seringkali menjadi isu nasional yang memerlukan penanganan serius.
- Pemantauan Intensif dan Deteksi Dini: BPBD terus melakukan pemantauan titik panas secara real-time dan meningkatkan patroli darat serta udara di wilayah-wilayah rawan. Sistem peringatan dini membantu tim lapangan bergerak cepat.
- Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat: Kampanye masif tentang bahaya pembakaran lahan dan metode pembukaan lahan yang berkelanjutan terus dilakukan. Masyarakat menjadi garda terdepan dalam mencegah karhutla.
- Penegakan Hukum Tegas: Aparat penegak hukum tidak ragu menindak tegas pelaku pembakaran lahan, baik perorangan maupun korporasi, untuk menciptakan efek jera dan mengurangi praktik ilegal.
- Kolaborasi Multidisiplin: Tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan sukarelawan bekerja sama memadamkan api dan melakukan pencegahan di lapangan. Pembangunan sekat kanal dan embung juga menjadi bagian dari mitigasi.
Masa Depan Karhutla di Sumsel Peran Masyarakat dan Pemerintah
Meskipun upaya penanggulangan terus digalakkan, peran serta aktif masyarakat sangat krusial dalam menekan angka karhutla. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat regulasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk deteksi dan pemadaman. Edukasi berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat adat dalam pengelolaan lahan berbasis kearifan lokal juga dapat menjadi solusi jangka panjang. Tantangan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga tentang mengubah perilaku, memperkuat tata kelola lahan, dan membangun kesadaran kolektif untuk melindungi lingkungan.

