Senin, 31 Agustus 2026 Samarinda, ID
Pemerintah

Komisi IX DPR Desak Kemenkes Bertindak Cepat Atasi 165 Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla Kalbar

Petugas kesehatan memberikan penanganan kepada warga yang terdampak kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Barat. Komisi IX DPR RI mendesak Kemenkes untuk segera bertindak mengatasi lonjakan kasus ISPA. (Foto: cnnindonesia.com)

Komisi IX DPR RI Desak Kemenkes Bertindak Cepat Atasi Lonjakan ISPA Akibat Karhutla Kalbar

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Barat (Kalbar) telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, menyentuh 165 ribu kasus, mayoritas disebabkan oleh dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melihat situasi krusial ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, secara tegas mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera turun tangan dan menangani secara serius dampak kesehatan yang meluas ini. Desakan tersebut menggarisbawahi urgensi respons pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman polusi udara kronis akibat bencana tahunan ini.

Urgensi Lonjakan Kasus ISPA di Kalimantan Barat

Angka 165 ribu kasus ISPA bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari penderitaan ribuan warga Kalbar yang harus menghadapi kondisi udara yang tidak sehat. ISPA, jika tidak ditangani dengan serius, dapat berujung pada komplikasi yang lebih parah, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan. Data ini juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan mitigasi karhutla, serta penanganan dampaknya, masih jauh dari kata optimal.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Kabut asap dari karhutla mengandung partikel-partikel mikro dan berbagai zat kimia berbahaya yang sangat merusak sistem pernapasan manusia. Paparan jangka panjang terhadap polusi udara ini tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga memperburuk kondisi asma, bronkitis, hingga meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Setiap tahun, masyarakat di Kalimantan Barat dan sejumlah wilayah lain di Sumatera harus menghadapi siklus yang sama, menuntut perhatian dan tindakan yang lebih berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah.

Desakan Komisi IX DPR RI dan Harapan Penanganan Kemenkes

Yahya Zaini secara eksplisit menyuarakan keprihatinan Komisi IX terhadap lambatnya respons terhadap krisis kesehatan ini. Ia menekankan bahwa Kemenkes memiliki peran sentral dalam memastikan kesehatan publik, terutama saat terjadi bencana. Desakan ini bukan tanpa alasan; Komisi IX menilai bahwa penanganan ISPA akibat karhutla harus menjadi prioritas nasional yang memerlukan mobilisasi sumber daya dan koordinasi lintas sektor yang kuat. Beberapa poin penting dari desakan Komisi IX meliputi:

  • Mobilisasi Tim Medis: Kemenkes perlu segera mengirimkan tim medis tambahan, termasuk dokter spesialis pernapasan dan perawat, ke fasilitas kesehatan di daerah terdampak Kalbar.
  • Penyediaan Logistik Kesehatan: Ketersediaan obat-obatan untuk ISPA, masker N95, tabung oksigen, dan alat bantu pernapasan harus dipastikan mencukupi dan terdistribusi hingga ke pelosok desa.
  • Edukasi dan Sosialisasi: Mengintensifkan kampanye edukasi kepada masyarakat mengenai cara melindungi diri dari paparan asap, pentingnya penggunaan masker, serta gejala ISPA yang memerlukan penanganan medis.
  • Fasilitas Kesehatan Bergerak: Mengaktifkan posko kesehatan keliling atau fasilitas kesehatan sementara untuk menjangkau masyarakat yang sulit mengakses puskesmas atau rumah sakit.
  • Koordinasi Lintas Sektor: Mendesak Kemenkes untuk berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah daerah dalam strategi penanganan dampak kesehatan dan pencegahan karhutla.

Komisi IX berharap Kemenkes tidak hanya berfokus pada penanganan kuratif, tetapi juga proaktif dalam upaya preventif dan promotif. Ini mencakup kampanye hidup sehat di tengah polusi, serta penguatan sistem surveilans penyakit pernapasan.

Dampak Jangka Panjang Karhutla dan Kebutuhan Solusi Komprehensif

Masalah karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan bukan sekadar isu musiman. Setiap tahun, karhutla tidak hanya menyebabkan krisis kesehatan, tetapi juga merugikan perekonomian, mengganggu pendidikan, dan merusak ekosistem dalam jangka panjang. Solusi untuk mengatasi bencana asap ini harus bersifat komprehensif dan berkelanjutan, melibatkan banyak pihak.

Pemerintah perlu memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, meningkatkan patroli dan pengawasan, serta mendorong praktik pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan tanpa bakar. Selain itu, investasi dalam teknologi pemantauan kualitas udara dan sistem peringatan dini sangat krusial agar masyarakat dapat mengambil tindakan pencegahan lebih awal. Kerugian ekonomi akibat terganggunya aktivitas sosial dan bisnis, serta biaya pengobatan yang membengkak, jauh lebih besar dibandingkan investasi dalam pencegahan dan mitigasi.

Di masa lalu, Kemenkes dan berbagai lembaga lain telah berupaya melakukan penanganan, namun desakan Komisi IX kali ini menunjukkan bahwa upaya tersebut masih perlu ditingkatkan dan diperkuat secara signifikan untuk menghadapi skala masalah yang terus berulang. Pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan melaporkan praktik pembakaran ilegal juga tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

Peran Masyarakat dan Edukasi Kesehatan

Selain upaya pemerintah, peran aktif masyarakat sangat penting dalam mengurangi risiko ISPA. Edukasi tentang pentingnya menggunakan masker saat kualitas udara buruk, membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga hidrasi tubuh, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala ISPA harus terus digalakkan. Kemenkes dan Dinas Kesehatan daerah dapat memanfaatkan berbagai platform, termasuk media sosial dan fasilitas kesehatan primer, untuk menyebarluaskan informasi krusial ini. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan komunitas lokal akan menjadi kunci keberhasilan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana asap.

Informasi lebih lanjut mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan dapat diakses melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.