Senin, 24 Agustus 2026 Samarinda, ID
Pendidikan

Kontroversi Keterlibatan TNI dalam PKKMB Unhas, Mahasiswa Pingsan Picu Sorotan Publik

(Foto: cnnindonesia.com)

Pihak Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kompak buka suara menanggapi kontroversi yang mencuat terkait dugaan ‘pembajakan’ kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas pada Rabu, 12 Agustus lalu. Insiden ini menjadi sorotan tajam setelah sejumlah laporan menyebutkan adanya mahasiswa baru (maba) yang jatuh pingsan di tengah kegiatan yang disebut-sebut melibatkan unsur militer, memicu kekhawatiran publik tentang keamanan dan kenyamanan lingkungan pendidikan.

### Kronologi Awal dan Pemicu Kontroversi

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Kontroversi bermula dari beredarnya informasi, baik melalui media sosial maupun laporan internal, yang mengindikasikan bahwa proses PKKMB FIB Unhas telah menyimpang dari pedoman yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Rektorat Unhas. Alih-alih mengedepankan nilai-nilai akademik, pengenalan lingkungan kampus yang humanis, dan budaya mahasiswa, kegiatan tersebut diduga diwarnai dengan metode yang menyerupai pelatihan militer. Keterlibatan oknum TNI dalam penanganan maba menjadi poin utama keberatan, terutama setelah beberapa mahasiswa dikabarkan pingsan akibat kelelahan atau tekanan psikis.

Saksi mata, yang enggan disebut namanya, menceritakan suasana tegang selama kegiatan berlangsung. “Ada instruksi yang cukup keras, bahkan terkesan membentak. Beberapa teman saya terlihat pucat dan akhirnya ada yang pingsan,” ujarnya. Laporan awal mengindikasikan setidaknya dua hingga tiga mahasiswa membutuhkan penanganan medis. Kejadian ini sontak memicu pertanyaan besar: sejauh mana batas keterlibatan TNI dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru, dan apakah prosedur standar keselamatan maba telah diabaikan?

### Respons Resmi dari Unhas dan TNI

Menanggapi riuhnya kabar ini, pihak Unhas melalui Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menyatakan komitmennya untuk segera melakukan investigasi menyeluruh. Mereka menegaskan bahwa Unhas memiliki pedoman PKKMB yang jelas, yang menekankan pada nilai-nilai edukatif, etika, dan anti-kekerasan. “Kami sangat menyesalkan jika ada penyimpangan. PKKMB adalah momen positif untuk menyambut maba, bukan untuk menakut-nakuti atau menekan mereka,” ujar perwakilan Unhas dalam konferensi pers. Pihak universitas berjanji akan menindak tegas oknum internal maupun eksternal yang terbukti melanggar aturan.

Senada dengan Unhas, perwakilan dari Komando Daerah Militer (Kodam) setempat juga memberikan klarifikasi. Mereka mengakui adanya permintaan bantuan dari pihak universitas, namun menegaskan bahwa keterlibatan TNI seharusnya terbatas pada materi wawasan kebangsaan atau bela negara yang bersifat edukatif dan inspiratif, bukan dalam bentuk pelatihan fisik atau disiplin yang represif. “Jika ada anggota kami yang melampaui batas kewenangan atau melakukan tindakan indisipliner, kami akan memprosesnya sesuai aturan yang berlaku di TNI,” tegas juru bicara Kodam, menekankan bahwa TNI tidak pernah menginstruksikan pendekatan keras dalam kegiatan akademik.

### Mengingat Kembali Pedoman PKKMB Bebas Kekerasan

Insiden ini kembali mengingatkan semua pihak akan pentingnya mematuhi Pedoman Umum PKKMB yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pedoman ini secara tegas melarang segala bentuk perpeloncoan, kekerasan fisik maupun psikis, serta kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan. Beberapa poin penting dalam pedoman tersebut meliputi:

* PKKMB harus berorientasi pada pengenalan akademik: Fokus pada sistem perkuliahan, fasilitas, dan kehidupan kampus.
* Dilakukan oleh mahasiswa senior dan dosen: Dengan pengawasan ketat dari pihak universitas.
* Anti-kekerasan: Segala bentuk perundungan, ancaman, atau tindakan represif dilarang keras.
* Membangun karakter positif: Menekankan nilai integritas, etika, dan kerja sama.
* Menjaga kesehatan dan keselamatan maba: Kegiatan harus mempertimbangkan kondisi fisik dan mental mahasiswa.

Keterlibatan pihak luar, termasuk militer, dalam PKKMB seringkali menjadi perdebatan. Meskipun niatnya bisa baik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, metode pelaksanaannya harus selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan dan hak asasi mahasiswa. Artikel lebih lanjut mengenai pedoman PKKMB dapat diakses melalui portal resmi pemerintah atau lembaga terkait. *(Outbound Link Placeholder: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/08/pentingnya-pkkmb-ramah-dan-edukatif)*

### Sorotan Publik dan Desakan Akuntabilitas

Kasus ini dengan cepat menyulut reaksi di kalangan masyarakat, aktivis pendidikan, dan organisasi mahasiswa. Banyak pihak mendesak Unhas untuk tidak hanya mengusut tuntas, tetapi juga mengambil langkah-langkah konkret agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang. Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan, misalnya, mengeluarkan pernyataan yang menuntut transparansi dalam investigasi dan sanksi tegas bagi semua pihak yang terlibat. Mereka juga menyerukan agar pihak rektorat secara berkala melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan PKKMB di semua fakultas.

Peristiwa ini juga menambah daftar panjang kontroversi seputar orientasi mahasiswa baru di Indonesia, yang seringkali diwarnai insiden tidak menyenangkan bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. Sudah saatnya perguruan tinggi, termasuk Unhas, menjadikan keamanan dan kesejahteraan mahasiswa sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan, terutama saat menyambut generasi penerus bangsa. Evaluasi mendalam terhadap metode, materi, dan pihak-pihak yang terlibat dalam PKKMB menjadi krusial untuk mengembalikan citra positif orientasi mahasiswa sebagai ajang yang mendidik, menyenangkan, dan inspiratif.

Kejadian di FIB Unhas ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk merefleksikan kembali esensi PKKMB. Program orientasi harusnya menjadi jembatan bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik, mengenal budaya kampus, dan membangun jaringan pertemanan, bukan malah menimbulkan trauma atau kekecewaan di awal perjalanan studi mereka.