Jumat, 26 Juni 2026 Samarinda, ID
Daerah

Raya Budaya Etam: Ruang Seni Kaltim

Foto Istimewa : Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, Bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Resmi Meluncurkan Raya Budaya Etam

SAMARINDA, nusavox.com – Lima penari Tari Jepen mengayunkan tangan dengan anggun dan menggerakkan kaki secara rancak. Penampilan memukau ini sukses membuka malam peluncuran Raya Budaya Etam di Temindung Creative Park, Samarinda, pada Rabu (24/6/2026). Selanjutnya, tepuk tangan para tamu bergemuruh saat Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI) meresmikan program tersebut. Mereka merancang program ini khusus sebagai wadah fasilitas bagi berbagai kegiatan komunitas dan pegiat budaya di Kalimantan Timur (Kaltim).

Peluncuran Raya Budaya Etam sendiri merupakan bagian dari rangkaian Ekspresi Seni Budaya Kalimantan Timur 2026. Dalam hal ini, Komisi X DPR RI, Hetifah, bekerja sama langsung dengan Kementerian Kebudayaan RI untuk menggagas acara tersebut. Oleh karena itu, penyelenggara berharap program ini mampu menjadi ruang kolaborasi yang solid bagi seniman, budayawan, akademisi, tokoh adat, pemerintah, hingga masyarakat luas.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Menyiasati Tantangan Global Lewat Kolaborasi

Dalam sambutannya, Hetifah menegaskan bahwa kebudayaan sangat membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak. Sebab, para pegiat seni saat ini harus menghadapi tantangan global yang dinamis serta keterbatasan anggaran.

“Di tengah berbagai situasi, baik di Kaltim sendiri maupun situasi global, termasuk efisiensi anggaran, kita harus menyatukan langkah dan hati. Kita masih bisa melakukan banyak hal bersama, asalkan kita lebih fokus memilih prioritas dan mengerjakannya secara kolaboratif,” tegas Hetifah.

Oleh karena itu, Hetifah optimistis kehadiran Raya Budaya Etam mampu menjawab tantangan tersebut. Program ini tidak hanya memperkuat jejaring antarkomunitas, tetapi juga membuka ruang baru bagi lahirnya berbagai aktivitas seni yang mendapatkan pendampingan langsung. Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas menjadi kunci utama untuk menjaga kelestarian warisan leluhur.

Belajar dari Kasus Masyarakat Adat Kedang Ipil

Pada kesempatan yang sama, Hetifah menyoroti konflik yang menimpa masyarakat adat di Kedang Ipil. Menurutnya, kasus tersebut menjadi contoh nyata betapa sulitnya mempertahankan identitas tradisi tanpa dukungan yang kuat. Namun, ia merasa lega karena kini seluruh pemangku kepentingan mau duduk bersama untuk mencari solusi terbaik.

Selain meluncurkan program baru, panitia juga menggelar forum dialog untuk menyerap aspirasi para pelaku seni. Dalam sesi tersebut, para peserta aktif menyampaikan berbagai usulan penting, mulai dari perlindungan hak adat, penguatan ruang berekspresi, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis tradisi lokal.

Mengembangkan Ekosistem Seni yang Berkelanjutan

Sejumlah narasumber kompeten turut mengawal jalannya diskusi ini. Mereka adalah sastrawan Syafruddin Pernyata, Herlina dari Sanggar Seni PKKB, Ketua Samarinda Sapeq Players Asfian Nur Gusprada, serta Ketua Umum Dewan Kesenian Kaltim Syafril Teha Noer.

Pada akhirnya, Hetifah berharap masyarakat bisa memanfaatkan Temindung Creative Park sebagai pusat kreativitas yang hidup. Dengan demikian, tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai panggung pertunjukan, melainkan juga tempat lahirnya gagasan besar untuk memajukan kebudayaan Kaltim.

Sebagai penutup malam, Alif Fakod melantunkan puisi dan memetik musik sape dengan syahdu. Alunan nada etnik yang indah itu sekaligus menandai langkah awal Raya Budaya Etam dalam membangun ekosistem seni yang lebih kuat di Bumi Etam.

Penulis : Aprillia