SAMARINDA, nusavox.com – Menindaklanjuti Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Jawa Tengah, Wakil Gubernur Kaltim H Seno Aji bergerak cepat menjajaki peluang investasi baru. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi bahan baku lokal agar mampu memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat, Sabtu (22/08/2026).
Wagub Seno Aji meninjau langsung fasilitas pengolahan sarang burung walet milik PT Esta Indonesia Tbk (NEST) di Terboyo Industrial Park, Kota Semarang.
Dorong Investasi Pabrik Sarang Burung Walet di Kaltim
Dalam kunjungan kerja tersebut, Direktur Utama PT Esta Indonesia Hoo Anton Siswanto menyambut langsung kedatangan Wagub Kaltim bersama jajaran DPMPTSP Jawa Tengah. Seno Aji mendengarkan pemaparan rantai bisnis perusahaan sekaligus mengamati proses pengolahan dari tahap pencucian hingga pengemasan ekspor.
Seno Aji menegaskan bahwa Kaltim menyimpan potensi bahan baku walet yang sangat melimpah. Oleh karena itu, hadirnya pabrik sarang burung walet di Kaltim menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
“Kami berharap PT Esta Indonesia dapat membangun fasilitas pencucian dan pengolahan ekspor di Kaltim. Pola investasinya tentu bisa kita bicarakan lebih lanjut, baik mandiri maupun bekerja sama dengan perusahaan daerah,” ujar Seno Aji.
Buka Peluang Kerja dan Dongkrak Pendapatan Daerah
Selain menaikkan kelas komoditas lokal, kehadiran industri pengolahan walet berpotensi besar memicu pertumbuhan ekonomi daerah. Bahkan, nilai omzet pengolahan komoditas ini mampu mencapai Rp50 hingga Rp60 miliar per bulan.
Oleh sebab itu, keberadaan pabrik sarang burung walet di Kaltim kelak tidak hanya mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menyerap banyak tenaga kerja lokal serta menekan angka pengangguran.
Respon Positif Investor dan Kesiapan Pelatihan SDM
Manajemen PT Esta Indonesia merespon positif rencana kerja sama investasi tersebut. Perusahaan tercatat telah memiliki sejumlah rumah burung walet di wilayah Kaltim, seperti Handil, Muara Badak, dan Marangkayu.
Sebagai langkah awal, perusahaan siap melatih SDM lokal Kaltim agar memiliki keterampilan standar ekspor sebelum pabrik resmi beroperasi. Pihaknya akan menyiapkan program pelatihan khusus sehingga tenaga kerja daerah siap mengelola fasilitas pencucian dan pengolahan walet secara mandiri.
(Aprl)

