SAMARINDA, nusavox.com – Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Wagub Kaltim), Seno Aji, bersama istrinya, Wahyu Hernaningsih Seno, mengunjungi keluarga Yazlyn Syanindita di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, pada Kamis (22/10/2026). Yazlyn merupakan bayi perempuan berusia 14 bulan yang meninggal dunia beberapa waktu lalu di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seno Aji mendatangi langsung rumah duka guna menyampaikan rasa belasungkawa secara pribadi. Selain itu, ia juga memberikan dukungan moral yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan.
Di tengah pekatnya kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Kaltim, Seno mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian korban tanpa adanya keterangan resmi dari tim medis.
“Kami datang karena mendengar kabar ada warga Bukuan yang meninggal dunia, bayi berusia sekitar satu setengah tahun. Kami mencoba berkunjung ke keluarga untuk menyampaikan belasungkawa,” ujar Wagub Kaltim.
Selanjutnya, Seno menegaskan bahwa penetapan penyebab kematian seseorang harus berlandaskan hasil pemeriksaan ilmiah dokter. Oleh karena itu, semua pihak sebaiknya tidak berspekulasi sebelum menerima penjelasan medis yang sah.
“Kita bukan orang medis, jadi tidak boleh memberikan pernyataan apa pun terkait penyebabnya. Kita turut berduka dan mudah-mudahan keluarga diberikan kekuatan serta ketabahan menghadapi cobaan ini,” tambahnya.
Mendorong Kenaikan Status Bencana dan Bantuan Pusat
Selain memberikan perhatian pada kasus ini, Pemprov Kaltim terus berupaya mengendalikan bencana karhutla secara menyeluruh. Wagub Kaltim menilai penanganan karhutla membutuhkan langkah berkelanjutan karena ketersediaan sarana dan kondisi cuaca sangat memengaruhi situasi di lapangan.
Guna memperkuat upaya penanggulangan, Wagub Kaltim telah merekomendasikan kepada pemerintah pusat agar meningkatkan status penanganan bencana dari siaga darurat. Apabila pemerintah pusat menyetujui kenaikan status menjadi bencana nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menyalurkan bantuan tambahan yang lebih besar.
“Kami sudah merekomendasikan ke pusat agar ada peningkatan status. Saat ini masih status siaga darurat. Kalau nanti bisa ditingkatkan, termasuk menjadi bencana nasional, tentu ada kemungkinan penambahan bantuan dari BNPB,” kata Seno.
Saat ini, Biro Hukum Pemprov Kaltim tengah menyusun berkas dokumen resmi pengajuan peningkatan status tersebut. Sementara itu, pemerintah daerah akan memantau respons pusat dalam satu hingga dua hari ke depan.
Mendesak Polda Kaltim Menindak Tegas Pembakar Lahan
Di samping itu, Wagub Kaltim menegaskan bahwa upaya mengatasi bencana tidak boleh berhenti pada pemadaman api semata. Menurutnya, aparat penegak hukum harus menindak tegas pihak-pihak yang sengaja membakar lahan secara tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, Pemprov Kaltim telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim untuk segera memproses hukum perusahaan maupun warga yang terbukti membakar lahan. Langkah ini selaras dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“Kami sudah meminta Polda Kaltim untuk segera memproses perusahaan-perusahaan yang sudah diidentifikasi sebagai pembakar lahan. Masyarakat yang sengaja membakar lahan untuk bercocok tanam dengan cara yang salah juga harus ditindak sesuai hukum,” tegas Seno.
Ia berharap penegakan hukum yang tegas mampu menciptakan efek jera bagi para pelaku. Akibatnya, krisis kabut asap dapat segera berakhir sehingga tidak lagi merugikan kesehatan masyarakat.
Ketabahan Orang Tua Korban dan Imbauan Kesehatan
Sementara itu, ibunda korban, Sindy Jumatun, menceritakan kronologi perawatan medis yang sempat dijalani mendiang anaknya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Yazlyn sempat menjalani pemeriksaan di poliklinik, IGD, ruang rawat inap, hingga akhirnya masuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Sindy menceritakan bahwa kabut asap memang menyelimuti pemukimannya pada malam kejadian. Kendati demikian, ia tidak dapat memastikan apakah asap tersebut menjadi penyebab utama yang memperburuk kondisi kesehatan putrinya.
Meskipun merasa terpukul atas kepergian sang buah hati, Sindy memilih untuk mengikhlaskan peristiwa ini sebagai takdir Tuhan. Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar selalu memantau dan menjaga kesehatan anak-anak di tengah kepungan asap karhutla.
(Aprl)

