Operasional Bandara Internasional Kualanamu dihentikan sementara waktu pada Sabtu, 31 Agustus 2026, menyusul erupsi eksplosif Gunung Sinabung. Insiden ini secara langsung berdampak pada pembatalan 21 jadwal penerbangan, menyebabkan ribuan penumpang terpaksa menunda perjalanan mereka dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi maskapai serta pihak bandara.
Keputusan penutupan bandara diambil murni demi keselamatan penerbangan, mengingat sebaran abu vulkanik Sinabung yang tebal mencapai wilayah udara Kualanamu. Data terakhir menunjukkan kolom abu vulkanik membubung hingga ketinggian sekitar 5.000 meter di atas puncak, dengan arah sebaran dominan ke tenggara, persis mengarah ke jalur penerbangan masuk dan keluar Bandara Kualanamu.
Kronologi Penutupan dan Dampak Langsung
Aktivitas Gunung Sinabung mulai menunjukkan peningkatan signifikan sejak Jumat malam, dengan tremor vulkanik yang terus-menerus. Puncak erupsi terjadi pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, melontarkan material piroklastik dan abu tebal. Otoritas penerbangan, bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), segera mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) bernomor VXXX/26 yang berlaku mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. NOTAM tersebut menyatakan penutupan total Bandara Kualanamu untuk semua jenis penerbangan komersial.
Akibat penutupan ini, sebanyak 21 penerbangan yang seharusnya berangkat atau mendarat di Kualanamu dibatalkan. Mayoritas adalah penerbangan domestik yang menghubungkan Medan dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Batam, serta beberapa rute internasional ke Malaysia dan Singapura. Pihak PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola bandara memastikan bahwa keputusan ini adalah langkah preventif mutlak untuk menghindari potensi bahaya pada mesin pesawat dan visibilitas pilot.
Kekacauan di Terminal dan Langkah Penanganan Penumpang
Suasana di terminal keberangkatan dan kedatangan Bandara Kualanamu sempat diwarnai kekacauan dan kebingungan. Ribuan penumpang yang telah berada di bandara atau baru tiba mendapati informasi pembatalan penerbangan secara mendadak. Antrean panjang terlihat di konter-konter maskapai yang melayani proses reschedule atau pengembalian tiket.
Untuk memitigasi dampak, pihak bandara dan maskapai berupaya maksimal untuk memberikan informasi terkini serta fasilitas seadanya bagi penumpang yang terlantar. Beberapa langkah yang diambil meliputi:
- Pembukaan posko informasi darurat.
- Penyediaan minuman dan makanan ringan gratis bagi penumpang yang menunggu.
- Koordinasi dengan hotel-hotel terdekat untuk akomodasi sementara bagi penumpang transit.
- Pengaktifan layanan hotline khusus untuk pertanyaan terkait penerbangan.
Maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, dan AirAsia dilaporkan segera mengimplementasikan kebijakan kompensasi sesuai regulasi, termasuk opsi penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan atau pengembalian dana penuh.
Ancaman Abu Vulkanik dan Protokol Keselamatan Penerbangan
Abu vulkanik dikenal sebagai ancaman serius bagi penerbangan. Partikel-partikel silika yang tajam dan abrasif dapat merusak mesin jet, mengikis kaca kokpit, dan mengganggu sistem avionik. Selain itu, abu juga dapat mengurangi jarak pandang secara drastis, membahayakan fase lepas landas dan pendaratan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau pergerakan awan abu dan memberikan pembaruan kepada pihak otoritas penerbangan.
Erupsi Gunung Sinabung bukan kali pertama berdampak pada operasional Kualanamu. Sejak aktivitasnya kembali meningkat pada tahun 2010 dan serangkaian erupsi besar di tahun-tahun berikutnya, bandara ini beberapa kali harus ditutup. Pengalaman sebelumnya telah membentuk prosedur standar yang lebih cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi ancaman abu vulkanik. (Artikel lama terkait dampak erupsi Sinabung pada Kualanamu)
Prospek dan Langkah Selanjutnya
Pihak Angkasa Pura II, bersama dengan AirNav Indonesia dan maskapai, akan terus memantau perkembangan situasi Gunung Sinabung. Pembukaan kembali Bandara Kualanamu akan sangat bergantung pada hasil observasi lapangan mengenai sebaran abu vulkanik dan kondisi cuaca. Prioritas utama tetap pada keselamatan dan keamanan penerbangan.
Pemerintah daerah dan pusat juga diimbau untuk terus mengembangkan strategi mitigasi jangka panjang, terutama mengingat Gunung Sinabung adalah salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Edukasi publik mengenai bahaya abu vulkanik dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci untuk meminimalisir dampak di masa mendatang.

