Rabu, 2 September 2026 Samarinda, ID
Internasional

Trump Puji Sikap China dalam Konflik Hormuz Jelang Kunjungan Xi Jinping

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) dalam sebuah pertemuan bilateral. (Foto: cnnindonesia.com)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pujian terhadap China atas sikapnya yang tidak ikut campur dalam konflik di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan di salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, sekaligus menjadi sorotan menjelang kunjungan penting Presiden China, Xi Jinping, ke Amerika Serikat. Pujian ini dinilai sebagai langkah strategis dalam upaya meredakan ketegangan diplomatik antara kedua negara adidaya, khususnya di tengah berlarut-larutnya perang dagang.

Selat Hormuz telah menjadi titik panas geopolitik yang memanas, terutama dengan adanya insiden penyerangan kapal tanker dan saling tuding antara Amerika Serikat dengan Iran. Dalam konteks ini, sikap China untuk tetap netral dan tidak terlibat secara militer atau politis langsung dalam konflik tersebut, menjadi sesuatu yang diapresiasi oleh Washington. Analis menilai, pujian Trump ini dapat diinterpretasikan sebagai sinyal positif dari Amerika Serikat, yang mungkin ingin membangun landasan kerja sama tertentu dengan Beijing, setidaknya dalam isu stabilitas regional yang krusial.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Latar Belakang Konflik Selat Hormuz dan Kepentingan Global

Selat Hormuz merupakan pintu gerbang maritim yang sempit, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan menjadi jalur utama bagi sekitar sepertiga pasokan minyak global yang diperdagangkan lewat laut. Setiap ketegangan atau gangguan di selat ini berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia dan mengancam stabilitas ekonomi global. Konflik di Selat Hormuz belakangan ini dipicu oleh:

  • Meningkatnya sanksi Amerika Serikat terhadap Iran setelah penarikan diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA).
  • Serangkaian insiden penyerangan kapal tanker yang dituduhkan kepada Iran oleh AS dan sekutunya.
  • Tanggapan Iran yang mengancam akan menutup selat jika ekspor minyaknya dihalangi.
  • Peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut untuk ‘melindungi kepentingan navigasi’.

Bagi banyak negara, termasuk China, stabilitas Selat Hormuz sangat krusial karena ketergantungan pada pasokan energi dari Timur Tengah. Oleh karena itu, menjaga jalur pelayaran tetap aman adalah prioritas utama.

Strategi Netralitas China di Kancah Internasional

Sikap non-intervensi China di Selat Hormuz sejalan dengan prinsip dasar kebijakan luar negerinya yang mengedepankan non-campur tangan dalam urusan internal negara lain dan fokus pada pengembangan ekonomi. Ada beberapa alasan kuat mengapa Beijing memilih untuk tetap netral:

  • Kepentingan Ekonomi: China adalah importir minyak terbesar di dunia, dengan sebagian besar pasokannya melewati Selat Hormuz. Kestabilan adalah kunci untuk menjaga rantai pasokan energinya tetap aman dan terjangkau. Terlibat dalam konflik hanya akan merugikan kepentingannya sendiri.
  • Menghindari Gesekan: Terlibat dalam konflik AS-Iran akan menempatkan China pada posisi yang sulit, berpotensi merusak hubungan dengan salah satu pihak atau bahkan keduanya, serta mengganggu perdagangannya di kawasan.
  • Fokus Domestik dan Regional: Beijing lebih memilih memusatkan perhatian pada isu-isu domestik seperti pertumbuhan ekonomi dan tantangan di Laut China Selatan, daripada terseret dalam konflik yang jauh di Timur Tengah.
  • Membangun Citra Global: Dengan tetap netral, China dapat memposisikan diri sebagai mediator potensial atau setidaknya kekuatan penstabil, bukan pihak yang memperkeruh suasana.

Implikasi Pujian Trump di Tengah Hubungan AS-China yang Kompleks

Pujian Donald Trump kepada China datang pada saat yang sangat sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara. Perang dagang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan telah merugikan ekonomi global dan menciptakan ketidakpastian. Pujian ini dapat diartikan sebagai:

  • Upaya Mencari Titik Temu: Sebuah isyarat bahwa Washington terbuka untuk menemukan area kerja sama, bahkan di tengah perselisihan, sebagai upaya membangun momentum positif menjelang pertemuan Xi Jinping.
  • Pengakuan Pragmatis: Pengakuan bahwa China memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas global, dan bahwa kepentingannya selaras dengan AS dalam konteks keamanan jalur pelayaran.
  • Strategi Negosiasi: Kemungkinan bagian dari taktik negosiasi Trump untuk meredakan ketegangan di satu front, sambil tetap mempertahankan tekanan di front lain seperti isu perdagangan atau hak asasi manusia.

Pujian ini kontras dengan retorika keras Trump sebelumnya terhadap China terkait isu perdagangan dan teknologi. Hal ini menunjukkan dinamika yang cair dan strategis dalam diplomasi tingkat tinggi antara kedua negara.

Agenda Utama Kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat

Kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat, yang dijadwalkan tidak lama setelah pernyataan Trump, diproyeksikan akan menjadi momen krusial untuk membahas berbagai isu mendesak. Topik utama yang kemungkinan besar akan menjadi agenda pembicaraan meliputi:

  • Perundingan Perang Dagang: Ini adalah prioritas utama. Kedua belah pihak berupaya mencapai kesepakatan fase satu atau setidaknya meredakan eskalasi tarif yang telah membebani kedua ekonomi.
  • Isu Teknologi dan Keamanan Nasional: Pembahasan seputar Huawei, keamanan siber, dan pencurian kekayaan intelektual (IP) kemungkinan besar akan muncul.
  • Situasi di Hong Kong: Meskipun China menganggapnya urusan internal, AS kerap menyuarakan keprihatinannya atas demonstrasi pro-demokrasi.
  • Isu Geopolitik Lainnya: Diskusi mungkin juga menyentuh isu Laut China Selatan, hak asasi manusia di Xinjiang, dan kerja sama dalam isu-isu global seperti perubahan iklim atau non-proliferasi nuklir.

Kunjungan ini diharapkan dapat membuka jalur komunikasi yang lebih konstruktif dan mengurangi friksi, meskipun resolusi penuh atas semua masalah mungkin masih jauh.

Potensi Dampak Global dari Dinamika Hubungan AS-China

Dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan China memiliki implikasi yang mendalam bagi tatanan global. Pujian Trump terhadap China atas sikapnya di Hormuz, meskipun tampak spesifik, mencerminkan adanya ruang untuk kerja sama di tengah persaingan yang intens. Ini bisa menjadi preseden bagi bagaimana dua kekuatan terbesar dunia dapat menavigasi krisis di masa depan.

Dalam jangka panjang, kemampuan kedua negara untuk mengelola perbedaan dan menemukan area kepentingan bersama akan menentukan stabilitas ekonomi dan keamanan internasional. Hasil dari kunjungan Xi Jinping dan bagaimana kedua pemimpin melanjutkan dialog pasca-pujian ini akan sangat dinantikan oleh komunitas global. (Lihat juga: Ketegangan di Selat Hormuz Memanas Setelah Insiden Kapal Tanker)