Pj Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, secara resmi menunjuk Demak dan Kabupaten Semarang sebagai wilayah percontohan (role model) untuk program penanganan stunting di tingkat nasional. Langkah strategis ini bukan sekadar bentuk apresiasi, melainkan sebuah inisiatif ambisius untuk mempercepat pencapaian target prevalensi stunting nasional sebesar 14-15% pada tahun 2029, sebuah angka krusial yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Penunjukan ini datang di tengah urgensi nasional untuk menekan angka stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Dampak jangka panjang stunting sangat signifikan, mulai dari penurunan produktivitas hingga kerentanan terhadap penyakit tidak menular di kemudian hari, menjadikannya tantangan serius bagi pembangunan bangsa. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi, memandang bahwa keberhasilan intervensi di tingkat lokal, seperti yang ditunjukkan Demak dan Kabupaten Semarang, memegang kunci replikasi dan skalabilitas program secara lebih luas.
Strategi Komprehensif di Demak dan Kabupaten Semarang
Keberhasilan Demak dan Kabupaten Semarang dalam menekan angka stunting tidak lepas dari implementasi strategi yang terintegrasi dan multisektoral. Pendekatan yang diadopsi kedua daerah ini menyoroti pentingnya intervensi gizi spesifik dan sensitif secara bersamaan, melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Beberapa pilar utama yang menjadikan kedua daerah ini layak menjadi percontohan meliputi:
- Intervensi Gizi Spesifik: Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, suplementasi mikronutrien, serta promosi ASI eksklusif dan MPASI yang tepat.
- Intervensi Gizi Sensitif: Peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, edukasi gizi dan kesehatan reproduksi, penguatan ketahanan pangan keluarga, serta penanggulangan kemiskinan.
- Data-Driven Approach: Pemanfaatan data akurat dari Posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya untuk identifikasi kasus, pemetaan masalah, dan evaluasi program secara berkelanjutan.
- Keterlibatan Masyarakat: Aktifnya peran kader Posyandu, PKK, dan tokoh masyarakat dalam edukasi, pendampingan, serta monitoring tumbuh kembang anak.
- Sinergi Lintas Sektor: Koordinasi erat antara dinas kesehatan, dinas pangan, dinas pendidikan, dinas pekerjaan umum, dan lembaga terkait lainnya untuk memastikan program berjalan selaras dan saling mendukung.
Pencapaian ini menunjukkan bahwa dengan komitmen kuat dan implementasi program yang terstruktur, penurunan prevalensi stunting bukan sekadar target, melainkan realitas yang bisa diwujudkan. Upaya ini merupakan kelanjutan dari komitmen pemerintah pusat yang selama ini digalakkan oleh BKKBN dan Kementerian Kesehatan dalam mendorong percepatan penurunan stunting di seluruh Indonesia, seperti yang dapat dilihat pada berbagai laporan kebijakan nasional terkait gizi. (Sumber: [BKKBN RI](https://www.bkkbn.go.id/program-pembangunan-keluarga/percepatan-penurunan-stunting))
Peran Krusial Pj Gubernur dan Sinergi Multisektor
Pj Gubernur Ahmad Luthfi menekankan bahwa penetapan Demak dan Kabupaten Semarang sebagai role model harus menjadi inspirasi bagi daerah lain di Jawa Tengah. Ia berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh dari pemerintah provinsi, baik melalui alokasi anggaran, pendampingan teknis, maupun fasilitasi koordinasi lintas sektor. Visi Luthfi adalah menciptakan ekosistem yang kondusif bagi percepatan penurunan stunting di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan mengadopsi praktik terbaik yang telah terbukti efektif.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Penanganan stunting membutuhkan pendekatan holistik dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan,” tegas Luthfi dalam berbagai kesempatan. Ini mencakup kolaborasi aktif antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga keluarga sebagai unit terkecil. Dengan menempatkan anak sebagai investasi masa depan, setiap intervensi harus dirancang dengan cermat dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Pj Gubernur aktif mendorong setiap kepala daerah untuk berinovasi dan tidak terpaku pada metode konvensional, melainkan berani mengadopsi pendekatan baru berbasis bukti.
Menuju Target Nasional 2029: Tantangan dan Harapan
Meskipun langkah progresif telah diambil, jalan menuju target prevalensi stunting 14-15% pada 2029 masih diwarnai berbagai tantangan. Faktor-faktor seperti tingkat kemiskinan, akses pendidikan yang belum merata, serta masih adanya perilaku hidup tidak sehat di sebagian masyarakat, menjadi hambatan yang memerlukan intervensi berkelanjutan. Selain itu, dinamika sosial dan ekonomi pasca-pandemi juga turut memengaruhi upaya penurunan stunting.
Namun, keberhasilan Demak dan Kabupaten Semarang memberikan optimisme. Keberadaan role model ini diharapkan mampu menularkan semangat dan metodologi yang efektif ke daerah-daerah lain. Dengan mengoptimalkan program seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), edukasi gizi bagi remaja putri dan calon pengantin, serta penguatan pelayanan kesehatan primer, target nasional bukan lagi sekadar impian. Harapan besar terletak pada kemampuan pemerintah daerah untuk beradaptasi, berinovasi, dan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Komitmen Pj Gubernur Luthfi untuk mengawal proses ini menjadi jaminan bahwa Jawa Tengah akan berperan sentral dalam mewujudkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan produktif bagi Indonesia Emas 2045.

