Jumat, 28 Agustus 2026 Samarinda, ID
Nasional

Ratusan Pendaki Dievakuasi dari Ranu Kumbolo Akibat Kebakaran Hutan Gunung Semeru

Tim penyelamat mengawal puluhan pendaki yang dievakuasi dari kawasan Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, setelah jalur pendakian dilanda kebakaran hutan. (Foto: cnnindonesia.com)

LUMAJANG – Sebanyak 170 pendaki dilaporkan berhasil dievakuasi dari kawasan Ranu Kumbolo, menyusul peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda jalur pendakian Gunung Semeru. Insiden ini memaksa Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk menutup sementara seluruh aktivitas pendakian demi keselamatan pengunjung dan upaya pemadaman api.

Peristiwa ini menjadi sorotan serius mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan karhutla, terutama di area yang ramai pendaki dan memiliki ekosistem rentan. Evakuasi massal ini dilakukan dengan sigap setelah api dilaporkan semakin mendekat ke area camp populer Ranu Kumbolo.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Kronologi Evakuasi dan Penutupan Jalur

Kebakaran hutan dilaporkan mulai terpantau pada Jumat sore, dengan titik api awal diperkirakan muncul di sekitar Blok Oro-oro Ombo menuju Ranu Kumbolo. Kondisi vegetasi yang kering akibat musim kemarau panjang serta embusan angin kencang mempercepat penyebaran api. Petugas TNBTS bersama tim gabungan dari BPBD, SAR, dan relawan segera bergerak melakukan pemadaman dan upaya pencegahan meluasnya api.

Namun, intensitas api yang terus meningkat dan merambat ke beberapa titik, termasuk mendekati jalur pendakian dan area Ranu Kumbolo, memicu keputusan cepat untuk mengevakuasi seluruh pendaki yang berada di ketinggian. Proses evakuasi 170 pendaki, yang sebagian besar berada di Ranu Kumbolo, dimulai pada Sabtu malam dan berlangsung hingga Minggu pagi. Mereka diarahkan untuk turun melalui jalur yang aman menuju Pos Ranu Pani.

Kepala Balai Besar TNBTS, Budi Santoso (nama fiktif untuk ilustrasi), dalam pernyataannya, mengonfirmasi penutupan total jalur pendakian Gunung Semeru mulai Minggu pagi hingga batas waktu yang belum ditentukan. “Prioritas utama kami adalah keselamatan pendaki dan tim yang bertugas memadamkan api. Penutupan ini bersifat mutlak hingga kondisi benar-benar aman dan api berhasil dipadamkan sepenuhnya,” ujarnya.

  • Total 170 pendaki dievakuasi dari Ranu Kumbolo dan sekitarnya.
  • Titik api terdeteksi di Blok Oro-oro Ombo menuju Ranu Kumbolo.
  • Evakuasi berlangsung Sabtu malam hingga Minggu pagi.
  • Jalur pendakian ditutup total hingga batas waktu tidak ditentukan.

Ancaman Karhutla Berulang di Musim Kemarau

Insiden karhutla di Gunung Semeru bukanlah kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau, gunung-gunung di Indonesia, termasuk Semeru, kerap menghadapi ancaman serupa. Kondisi vegetasi yang kering kerontang menjadi bahan bakar empuk bagi api, baik yang disebabkan oleh faktor alamiah seperti sambaran petir, maupun kelalaian manusia seperti pembakaran sampah, puntung rokok, atau api unggun yang tidak dipadamkan sempurna.

Sebelumnya, pada tahun-tahun lalu, Gunung Semeru juga pernah ditutup akibat kebakaran hutan di beberapa area, seperti di Blok Ayek-ayek atau Watu Rejeng. Peristiwa ini selalu menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan ekstra bagi para pendaki dan pengelola taman nasional. Pemerintah dan pegiat lingkungan juga terus mengampanyekan pentingnya menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan jejak api saat beraktivitas di alam terbuka.

Upaya pemadaman api di Semeru saat ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tim darat dan pemantauan udara jika memungkinkan. Namun, medan yang sulit dan angin kencang menjadi tantangan berat dalam upaya lokalisasi dan pemadaman.

Dampak Lingkungan dan Imbauan Pencegahan

Karhutla memiliki dampak yang sangat merusak bagi ekosistem. Selain memusnahkan vegetasi, kebakaran juga mengancam habitat satwa liar, merusak kesuburan tanah, dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang memperburuk perubahan iklim. Ranu Kumbolo sendiri merupakan danau pegunungan yang sangat indah dan menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. Kerusakan di area ini tentu akan sangat disayangkan.

TNBTS mengimbau seluruh masyarakat dan calon pendaki untuk selalu mematuhi peraturan yang berlaku di kawasan konservasi. Penting untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membuat api unggun di sembarang tempat, atau memastikan api unggun telah padam sempurna sebelum meninggalkan area perkemahan. Edukasi mengenai mitigasi bencana dan bahaya karhutla juga terus digencarkan untuk meningkatkan kesadaran publik.

Meskipun operasi evakuasi berjalan lancar tanpa korban jiwa, insiden ini kembali menyoroti kerentanan alam Indonesia terhadap bencana karhutla dan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola kawasan untuk menjaga kelestarian lingkungan.