Kamis, 27 Agustus 2026 Samarinda, ID
Nasional

Prabowo Perkenalkan ‘Jas Hijau’ di Muktamar NU: Ingatkan Jasa Besar Ulama untuk Indonesia

Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di Muktamar NU, memperkenalkan akronim 'Jas Hijau' untuk mengingatkan jasa ulama. (Foto: cnnindonesia.com)

Prabowo Ingatkan Peran Krusial Ulama dalam Sejarah Bangsa, Luncurkan ‘Jas Hijau’ di Muktamar NU

Dalam forum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan perhelatan akbar bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan sebuah pesan krusial mengenai urgensi mengingat kembali peran tak tergantikan para ulama dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa. Ia menekankan perlunya seluruh elemen masyarakat untuk tidak pernah melupakan kontribusi besar para alim ulama, mulai dari era pra-kemerdekaan hingga pembentukan fondasi negara.

Terinspirasi dari gagasan proklamator Soekarno yang terkenal dengan akronim ‘Jas Merah’, Prabowo pun memperkenalkan adaptasi baru yang ia sebut ‘Jas Hijau’. Akronim ini merupakan kependekan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah Ulama”, sebuah seruan yang digaungkan di hadapan ribuan peserta Muktamar, menegaskan kembali komitmen terhadap nilai-nilai historis dan warisan perjuangan para ulama.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Mengingat Peran Krusial Ulama dalam Sejarah Bangsa

Sejarah panjang Indonesia secara gamblang mencatat bahwa peran ulama tidak hanya sebatas memimpin umat dalam aspek keagamaan. Lebih dari itu, mereka bertindak sebagai garda terdepan dalam perjuangan melawan penjajahan dan pembangunan fondasi negara Republik Indonesia. Sejak era pergerakan nasional hingga detik-detik proklamasi kemerdekaan, para ulama telah menjadi motor penggerak pendidikan, perlawanan bersenjata, dan pemersatu bangsa di tengah keragaman.

Mereka mendirikan pesantren yang tak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai benteng moral dan intelektual, serta basis resistensi terhadap kekuatan kolonial. Para ulama juga mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan turut aktif dalam merumuskan dasar negara Pancasila yang hingga kini menjadi pilar kebangsaan. Sumbangsih tak ternilai dari para ulama mencakup berbagai bidang penting, antara lain:

  • Pendidikan: Mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan tradisional (pesantren) yang menjadi pusat kaderisasi pemimpin dan ulama pejuang.
  • Perlawanan: Mengorganisir dan memimpin perlawanan bersenjata maupun non-kooperatif terhadap kolonialisme di berbagai pelosok nusantara.
  • Pemersatu: Menjadi perekat berbagai elemen masyarakat, mengedepankan persatuan dalam bingkai keberagaman suku, agama, dan budaya.
  • Ideologi: Berperan aktif dalam perumusan dan penguatan ideologi Pancasila sebagai dasar negara yang inklusif dan moderat.

Mengingat jasa-jasa heroik ini, Prabowo menyerukan agar generasi penerus senantiasa meneladani semangat patriotisme, keikhlasan, dan integritas para ulama pendahulu.

Inspirasi Bung Karno dan Lahirnya ‘Jas Hijau’

Gagasan “Jas Hijau” yang dilontarkan oleh Prabowo jelas mengambil inspirasi dari pidato legendaris Presiden Soekarno pada tahun 1966. Kala itu, Soekarno mengemukakan “Jas Merah”, kependekan dari “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, sebuah peringatan keras agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan akar dan proses perjuangannya. Untuk memahami lebih jauh makna “Jas Merah” Bung Karno, Anda dapat membaca artikel mendalam mengenai Jas Merah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Prabowo mengadaptasi semangat tersebut dengan fokus spesifik pada jasa ulama, menunjukkan apresiasinya terhadap kelompok yang, dalam beberapa narasi, seringkali terlupakan dalam arus utama penulisan sejarah. Pemilihan warna hijau juga memiliki makna simbolis yang kuat, merepresentasikan Islam, kesuburan, dan perdamaian, yang sangat erat kaitannya dengan identitas dan peran historis ulama di Indonesia. Inisiatif “Jas Hijau” ini dapat dilihat sebagai upaya untuk melengkapi dan memperkaya ingatan kolektif bangsa, memastikan bahwa semua pilar sejarah mendapatkan tempat yang layak. Seruan ini juga konsisten dengan berbagai imbauan sebelumnya dari tokoh-tokoh nasional lain yang mengingatkan pentingnya literasi sejarah yang komprehensif bagi generasi muda.

Relevansi Pesan di Forum Muktamar NU

Penyampaian pesan “Jas Hijau” di forum Muktamar NU bukanlah tanpa alasan strategis. Nahdlatul Ulama, sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia, memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Didirikan oleh para ulama besar seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU secara konsisten menjaga semangat nasionalisme, moderasi Islam, dan komitmen terhadap NKRI.

Di forum yang dihadiri oleh ribuan ulama, kiai, santri, dan tokoh masyarakat ini, pesan Prabowo menemukan resonansi yang sangat kuat, mengingat audiensnya merupakan pewaris langsung tradisi keilmuan dan perjuangan tersebut. Pesan ini menjadi pengingat yang relevan bagi internal NU itu sendiri untuk terus menghidupkan semangat pendahulunya, sekaligus bagi seluruh bangsa agar tidak abai terhadap jejak langkah pahlawan dari kalangan ulama. Hal ini juga menegaskan kembali komitmen Prabowo terhadap nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, yang selama ini menjadi fondasi kuat Republik Indonesia.

Prabowo berharap agar “Jas Hijau” dapat menjadi sebuah jargon yang mengingatkan setiap warga negara, khususnya generasi muda, akan betapa vitalnya peran ulama dalam membentuk Indonesia yang kokoh dan berdaulat. Pesan ini bukan hanya sekadar kilas balik sejarah, melainkan juga sebuah panggilan untuk terus meneladani dan mengamalkan nilai-nilai perjuangan demi masa depan bangsa yang lebih baik, menghadapi tantangan global dengan berpegang pada akar sejarah dan nilai-nilai luhur.