Selasa, 28 Juli 2026 Samarinda, ID
Nasional

Andi Widjajanto Tegaskan Profesionalisme TNI, Ingatkan Pelajaran Kudatuli untuk Demokrasi

Andi Widjajanto, politikus PDIP dan pengamat pertahanan, menekankan profesionalisme TNI di peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli. (Foto: cnnindonesia.com)

Andi Widjajanto, seorang politikus senior PDI Perjuangan, menekankan urgensi profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan menolak keras keterlibatan militer dalam dinamika politik praktis. Penegasan ini disampaikan dalam momentum peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli, sebuah peristiwa kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia yang menjadi pengingat penting akan bahaya intervensi kekuatan militer terhadap kedaulatan sipil. Pernyataan Andi Widjajanto ini menggarisbawahi kembali prinsip fundamental reformasi TNI pasca-Orde Baru, yakni menempatkan militer sebagai alat negara yang profesional, netral, dan patuh pada konstitusi, jauh dari arena politik partisan.

Mengenang Kudatuli dan Imperatif Netralitas Militer

Tragedi 27 Juli 1996, atau yang dikenal dengan Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), merupakan salah satu babak kelam dalam perjalanan politik Indonesia menjelang akhir era Orde Baru. Peristiwa ini melibatkan penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang pada saat itu dikuasai oleh kubu Megawati Soekarnoputri, oleh massa yang diduga didukung aparat keamanan. Insiden tersebut tidak hanya menelan korban jiwa dan luka, tetapi juga menjadi simbol nyata bagaimana kekuasaan militer dapat digunakan untuk menekan aspirasi politik rakyat dan mengintervensi proses demokrasi. Tiga puluh tahun berselang, memori Kudatuli berfungsi sebagai peringatan keras tentang pentingnya menjaga jarak yang jelas antara institusi militer dan politik. Untuk memahami lebih jauh sejarah kelam ini, Anda dapat merujuk pada artikel terkait Peristiwa 27 Juli di Wikipedia.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Beberapa poin penting mengenai Kudatuli yang perlu diingat:

  • Kudatuli adalah penyerbuan kantor DPP PDI yang diduduki kubu Megawati.
  • Peristiwa ini terjadi pada 27 Juli 1996 dan menelan korban jiwa serta luka-luka.
  • Insiden ini secara jelas melambangkan intervensi militer dalam ranah politik sipil.

Urgensi Profesionalisme TNI dalam Demokrasi

Bagi Andi Widjajanto, peringatan Kudatuli adalah momentum strategis untuk menegaskan kembali bahwa profesionalisme TNI tidak hanya sekadar slogan, melainkan pilar utama dalam menjaga stabilitas dan integritas negara demokratis. Profesionalisme ini mencakup beberapa aspek krusial:

  • Fokus pada Tugas Pokok: TNI harus berkonsentrasi penuh pada tugas utamanya sebagai alat pertahanan negara, melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah, serta menjaga keselamatan segenap bangsa.
  • Kepatuhan pada Hukum dan Konstitusi: Setiap tindakan prajurit TNI harus selalu berlandaskan hukum positif dan konstitusi Republik Indonesia, menjunjung tinggi supremasi sipil.
  • Netralitas Politik: Prajurit TNI dilarang terlibat dalam politik praktis, tidak berpihak pada partai politik atau golongan tertentu, dan tidak menggunakan institusi militer untuk kepentingan politik pribadi atau kelompok.
  • Akuntabilitas Publik: TNI sebagai institusi negara harus transparan dan akuntabel dalam menjalankan tugasnya kepada rakyat.

Penolakan terhadap keterlibatan militer dalam politik bukan berarti mengecilkan peran TNI. Sebaliknya, hal ini justru memperkuat posisi TNI sebagai lembaga yang dihormati dan dipercaya oleh rakyat karena kemampuannya menjalankan tugas negara secara imparsial dan efektif. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa ketika militer terlibat dalam politik, yang terjadi adalah erosi kepercayaan publik, perpecahan internal, dan potensi penyalahgunaan kekuasaan yang merusak tatanan demokrasi.

Menjaga Jarak dari Politik Praktis

Andi Widjajanto mengingatkan bahwa sejarah kelam Kudatuli harus menjadi pembelajaran kolektif bangsa, terutama bagi institusi TNI sendiri. Upaya membangun TNI yang profesional dan non-partisan adalah sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen kuat dari seluruh elemen, baik di dalam tubuh militer maupun dari pemimpin sipil. Reformasi TNI yang digulirkan pasca-1998 secara eksplisit memisahkan peran militer dari fungsi politik dan sosial yang sebelumnya melekat erat di era Orde Baru melalui doktrin dwifungsi ABRI. Meskipun banyak kemajuan telah dicapai, tantangan untuk mempertahankan dan memperkuat netralitas TNI tetap menjadi agenda penting. Pernyataan seorang politikus dari partai penguasa seperti Andi Widjajanto, yang juga memiliki latar belakang sebagai mantan Sekretaris Kabinet dan ahli pertahanan, mengindikasikan bahwa isu ini masih relevan dan perlu terus diangkat ke permukaan.

Pelajaran Berharga untuk Demokrasi Berkelanjutan

Memperingati Kudatuli bukan hanya sekadar mengenang, tetapi juga mengambil esensi dari tragedi tersebut untuk pembangunan demokrasi yang lebih kokoh di masa depan. Pesan Andi Widjajanto mengenai profesionalisme dan penolakan terhadap keterlibatan militer dalam politik adalah fondasi vital bagi keberlangsungan sistem politik yang sehat. Ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa kekuatan bersenjata harus tetap berada di bawah kendali sipil dan berfokus pada mandat konstitusionalnya, menjauhkan diri dari godaan kekuasaan politik yang dapat merusak sendi-sendi demokrasi. Dengan demikian, kepercayaan rakyat terhadap TNI sebagai penjaga kedaulatan negara dan bangsa dapat terjaga dengan baik.