SAMARINDA, nusavox.com – Masyarakat menganyam setiap lembar daun nipah menjadi urung ketupat dengan menyimpan cerita tentang keterampilan, ketekunan, dan budaya turun-temurun. Salah satu sosok yang setia menjaga tradisi ini adalah Ibu Ancek Mala. Pengrajin berusia 54 tahun tersebut menekuni usaha anyaman daun nipah Kampung Ketupat sejak tahun 1994.
Selama lebih dari tiga dekade, Ibu Ancek Mala mengolah daun nipah menjadi urung ketupat sebagai aktivitas utamanya. Pertama-tama, beliau memilih bahan baku berkualitas tinggi. Selanjutnya, beliau memotong daun sesuai ukuran dan menganyamnya dengan teliti hingga menghasilkan kulit ketupat yang kokoh, Selasa (22/9/2026).
Menelusuri Keunikan Tradisi Anyaman Daun Nipah di Samarinda
Para pengrajin tidak sekadar menciptakan produk kerajinan biasa saat membuat urung ketupat. Sebaliknya, penggunaan bahan dasar ini menegaskan identitas budaya yang sangat melekat pada masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur.
Pada umumnya, pengrajin di berbagai daerah Indonesia menggunakan janur kelapa atau daun pandan besar. Namun, warga Samarinda dan sekitarnya memilih tradisi yang berbeda dengan memanfaatkan daun nipah. Oleh karena itu, anyaman daun nipah Kampung Ketupat memiliki nilai historis dan kultural yang sangat penting bagi daerah tersebut.
Selain melestarikan tradisi lokal, kegiatan menganyam ini juga menopang perekonomian keluarga. Bahkan, banyak warga yang menggantungkan mata pencaharian utama mereka dari usaha kerajinan tradisional ini.
Kampung Ketupat dan Harapan Membukukan Tradisi
Kampung Ketupat menjadi kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ini. Di kawasan tersebut, para warga mengasah keterampilan menganyam sekaligus membentuk identitas budaya yang khas.
Melihat potensi budaya yang besar ini, Ibu Rachma menginisiasi langkah untuk membukukan kisah para pengrajin. Secara khusus, beliau ingin mengabadikan perjalanan hidup Ibu Ancek Mala melalui karya tulis. Rencananya, buku tersebut akan memuat beberapa hal penting berikut:
- Merekam Perjalanan Usaha: Penulis akan mencatat rekam jejak pengrajin yang bertahan sejak tahun 1994.
- Menjelaskan Proses Kreatif: Menguraikan tahapan detail pemrosesan daun nipah dari bahan mentah hingga menjadi anyaman utuh.
- Menampilkan Dinamika Sosial: Menceritakan pengalaman hidup dan cara masyarakat tumbuh bersama tradisi lokal.
- Menjaga Identitas Daerah: Mendokumentasikan kebudayaan khas yang membedakan Samarinda dari daerah lain.
Menjaga Warisan Pengetahuan untuk Generasi Mendatang
Masyarakat perlu mendokumentasikan tradisi ini secepatnya. Sebab, sebuah tradisi akan perlahan menghilang jika generasi penerus tidak mencatat dan mengenalnya dengan baik. Aktivitas sehari-hari yang dikerjakan para pengrajin saat ini kelak akan menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga.
Pada akhirnya, penerbitan buku ini akan mengingatkan publik bahwa Kalimantan Timur memiliki kekayaan tradisi yang unik. Karya ini tidak hanya mengulas ketupat sebagai hidangan kuliner, tetapi juga mengapresiasi kerja keras para pengrajin, sumber pendapatan warga, serta peran Kampung Ketupat dalam merawat budaya.
Sebab, setiap anyaman menyimpan cerita. Dan setiap cerita yang tertulis hari ini akan menjadi warisan pengetahuan bagi masa depan.
(Aprl)

