Jumat, 19 Juni 2026 Jakarta, ID
IKLAN
Media Digital untuk Generasi Cerdas
Selengkapnya
Internasional

Bukan Hanya Tim Nasional, AI China Juga Bertarung di Piala Dunia 2026

SAMARINDA, nusavox.com – Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung persaingan bagi 48 tim nasional terbaik dunia. Di balik gemerlap pertandingan yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, perusahaan-perusahaan teknologi China juga ikut bertarung melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) AI yang berlomba memprediksi hasil pertandingan hingga calon juara dunia.

Sejumlah model bahasa besar atau (Large Language Model) LLM seperti Qwen, DeepSeek, Kimi, dan MiniMax memanfaatkan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu sebagai ajang pembuktian kemampuan teknologi mereka. Melalui berbagai fitur prediksi berbasis data, perusahaan-perusahaan tersebut berusaha menunjukkan sejauh mana AI mampu membaca peluang kemenangan sebuah tim.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Menurut laporan China Daily yang dikutip pada Selasa (16/6/2026) lalu, berbagai platform AI meluncurkan layanan khusus prediksi pertandingan selama Piala Dunia berlangsung. Pengguna dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk melihat analisis peluang kemenangan, simulasi skor, hingga prediksi tim yang berpotensi mengangkat trofi juara.

Anggota Chinese Association for Artificial Intelligence, Guo Tao, mengatakan Piala Dunia merupakan kesempatan langka bagi perusahaan AI untuk memperkenalkan kemampuan teknologi mereka kepada masyarakat global.

“Sebagai salah satu ajang olahraga paling banyak ditonton di dunia, Piala Dunia memberi perusahaan AI kesempatan langka untuk menunjukkan daya komputasi dan kemampuan analitis model bahasa besar kepada khalayak yang lebih luas,” katanya.

Bukan hanya soal teknologi, kompetisi antarperusahaan AI juga dikemas dalam bentuk kampanye interaktif. Kimi, yang dikembangkan Moonshot AI, misalnya, menawarkan hadiah hingga satu triliun token kepada pengguna yang berhasil menebak pemenang pertandingan maupun juara turnamen.

Sementara itu, Qwen milik Alibaba Group menghadirkan asisten virtual khusus prediksi pertandingan dan tantangan “manusia melawan AI” untuk menguji siapa yang lebih akurat dalam membaca hasil laga.

Namun di tengah kecanggihan teknologi yang terus berkembang, Piala Dunia 2026 justru menjadi bukti bahwa sepak bola masih menyimpan unsur ketidakpastian yang sulit dipahami sepenuhnya oleh mesin.

Salah satu contohnya terjadi menjelang pertandingan Grup C antara Brasil dan Maroko. Berdasarkan analisis statistik dan data historis, sejumlah model AI unggulan memprediksi Brasil akan meraih kemenangan. Namun hasil di lapangan berbicara berbeda. Pertandingan berakhir imbang 1-1, membuat prediksi tersebut meleset.

Fenomena itu menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya ditentukan oleh angka dan algoritma. Faktor kondisi fisik pemain, strategi pelatih, mental bertanding, cuaca, hingga momentum pertandingan sering kali menjadi variabel yang sulit dihitung secara akurat oleh model AI.

Guo Tao menilai kecerdasan buatan memang sangat kuat dalam mengolah data historis dan menemukan pola statistik. Akan tetapi, dunia olahraga memiliki banyak dinamika yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam rumus matematika.

Pandangan serupa disampaikan Presiden (Beijing Academy of Artificial Intelligence) BAAI, Wang Zhongyuan. Dalam konferensi BAAI pekan lalu, ia menegaskan bahwa AI saat ini semakin unggul dalam menyelesaikan berbagai persoalan di dunia digital. Namun teknologi tersebut masih menghadapi tantangan besar ketika harus memahami dan memprediksi kejadian di dunia nyata.

Menurut Wang, arah perkembangan AI di masa depan akan bergerak dari sekadar memprediksi kata atau token berikutnya menjadi kemampuan memprediksi kondisi fisik dan peristiwa yang terjadi di dunia nyata.

Meski tingkat akurasinya belum sempurna, perusahaan-perusahaan teknologi tetap melihat prediksi olahraga sebagai peluang strategis.

Selain menjadi sarana promosi teknologi, kompetisi tersebut juga menjadi cara baru untuk menarik perhatian pengguna di tengah persaingan industri AI yang semakin ketat.

Guo mengatakan pasar kini tidak lagi hanya menilai AI dari ukuran model atau jumlah parameter yang dimiliki. Yang lebih penting adalah kemampuan teknologi tersebut dalam memberikan solusi nyata dan membantu pengguna menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.

Sementara itu, Profesor Shanghai University of Finance and Economics, Hu Yanping, menilai perkembangan AI saat ini sedang bergerak menuju tahap baru. Jika sebelumnya AI hanya berfungsi sebagai sistem percakapan, kini teknologi tersebut mulai berkembang menjadi agen cerdas yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.

Menurut Hu, eksperimen seperti prediksi pertandingan Piala Dunia dapat menjadi langkah penting dalam pengembangan agen AI generasi berikutnya yang memiliki kemampuan persepsi, interaksi, pengambilan keputusan, dan kolaborasi yang lebih kompleks.

Piala Dunia 2026 pun menjadi gambaran bagaimana persaingan global kini tidak hanya terjadi di lapangan hijau. Di balik sorotan kamera dan riuh sorak suporter, algoritma dan kecerdasan buatan juga sedang bertanding untuk membuktikan siapa yang paling mampu membaca masa depan.

Penulis : Beby Aprillia