MALANG – Ratusan warga menggelar aksi teatrikal penuh simbolisme di Balai Kota, menandai empat tahun Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 korban jiwa. Peringatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat pahit atas peristiwa kelam pada 1 Oktober 2022 itu, tetapi juga sebagai seruan keras untuk menuntut keadilan yang dirasa masih menggantung bagi para korban dan keluarga mereka. Aksi ini menyoroti lambatnya progres penuntasan kasus hukum serta akuntabilitas dari pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa spanduk bertuliskan pesan-pesan moral, para peserta aksi secara dramatis merepresentasikan penderitaan dan harapan keluarga korban. Mereka menggemakan slogan “Menolak Lupa, Menuntut Keadilan,” yang menjadi inti dari perjuangan tanpa henti dalam mencari akuntabilitas penuh. Aksi teatrikal ini, yang kerap menjadi cara masyarakat sipil menyampaikan aspirasi, menunjukkan bahwa memori kolektif terhadap tragedi Kanjuruhan tetap hidup dan bergolak, jauh dari kata usai.
Kilasan Tragedi Kanjuruhan dan Dampak Sosialnya
Tragedi Kanjuruhan merupakan salah satu insiden terburuk dalam sejarah sepak bola dunia. Malam kelabu itu, usai pertandingan Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya, kericuhan pecah di dalam stadion. Aparat keamanan merespons dengan menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton, yang memicu kepanikan massal. Ribuan suporter berusaha menyelamatkan diri melalui pintu keluar yang sebagian besar terkunci, menyebabkan penumpukan, sesak napas, dan injakan. Insiden ini secara tragis merenggut 135 nyawa, termasuk anak-anak dan wanita, serta melukai ratusan lainnya.
- Jumlah korban jiwa yang masif telah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan komunitas.
- Dampak psikologis dan trauma masih dirasakan oleh para penyintas dan saksi mata.
- Sorotan tajam terhadap standar keamanan stadion, prosedur pengamanan pertandingan, dan penggunaan senjata kimia oleh aparat.
- Tragedi ini memicu gelombang simpati global dan desakan reformasi tata kelola sepak bola di Indonesia.
Desakan Keadilan yang Tak Kunjung Padam
Empat tahun berlalu, keluarga korban dan aktivis hak asasi manusia terus mendesak agar seluruh pihak yang bertanggung jawab atas tragedi ini dibawa ke pengadilan. Mereka menyoroti bahwa proses hukum yang telah berjalan belum menyentuh aktor-aktor di level yang lebih tinggi, serta hukuman yang dijatuhkan dianggap terlalu ringan dan tidak setimpal dengan hilangnya banyak nyawa.
Aksi teatrikal di Balai Kota ini merupakan ekspresi kolektif dari kekecewaan terhadap sistem hukum yang dianggap lamban dan belum sepenuhnya transparan. Tuntutan utama mereka meliputi:
- Re-investigasi Kasus: Permintaan untuk membuka kembali penyelidikan dan memastikan tidak ada pihak yang lolos dari jeratan hukum.
- Akuntabilitas Penuh: Menyeret pihak-pihak dari unsur PSSI, operator liga, hingga aparat keamanan yang terbukti lalai atau terlibat dalam pengambilan keputusan yang fatal.
- Ganti Rugi dan Pemulihan: Memastikan adanya kompensasi yang layak serta program pemulihan psikologis bagi korban dan keluarga.
- Reformasi Keamanan Olahraga: Mendesak perubahan fundamental dalam regulasi dan implementasi keamanan di setiap ajang olahraga, terutama sepak bola.
Refleksi Empat Tahun Tanpa Akuntabilitas Penuh
Perjalanan kasus Kanjuruhan sejak awal telah diwarnai kontroversi dan kritik. Banyak pihak menganggap proses hukum terlalu fokus pada pelaku lapangan dan mengabaikan tanggung jawab struktural. Beberapa terpidana memang telah dijatuhi hukuman, namun keluarga korban merasakan adanya ketidakadilan. Terlebih lagi, proses di tingkat kasasi sempat memunculkan putusan yang membebaskan beberapa terdakwa dari unsur kepolisian, memicu kemarahan publik.
Kurangnya akuntabilitas dari institusi-institusi besar seperti Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam konteks Tragedi Kanjuruhan telah menjadi sorotan tajam. Banyak yang berpendapat bahwa reformasi substansial yang dijanjikan setelah tragedi belum terealisasi secara konkret. Solidaritas dari berbagai elemen masyarakat, termasuk suporter dari klub lain, terus mengalir, menunjukkan bahwa persoalan ini melampaui sekat-sekat fanatisme klub.
Membangun Memori Kolektif dan Solidaritas Tanpa Batas
Peringatan empat tahun ini bukan hanya sekadar acara seremonial. Ia adalah upaya sistematis untuk menjaga agar memori tentang Kanjuruhan tidak pudar ditelan waktu. Melalui aksi teatrikal, orasi, dan doa bersama, para peserta ingin memastikan bahwa tragedi ini akan terus diingat sebagai pengingat akan pentingnya nyawa manusia dan keharusan adanya akuntabilitas negara terhadap warganya. Ini adalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendorong perubahan budaya dalam penyelenggaraan acara publik dan penegakan hukum.
Perjuangan untuk keadilan bagi korban Kanjuruhan menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia yang lebih luas di Indonesia. Semangat “menolak lupa” ini diharapkan dapat memantik kesadaran kolektif untuk mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum agar lebih serius dalam menangani kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia dan menjamin perlindungan bagi setiap warga negara.

