JAKARTA – Para ilmuwan kembali menyuarakan peringatan keras mengenai ancaman serius yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap upaya Indonesia dalam mencapai target iklimnya pada tahun 2030. Isu klasik ini, yang kerap terulang setiap tahun, kini disoroti sebagai salah satu batu sandungan terbesar yang berpotensi menggagalkan komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca di tingkat nasional maupun global. Dampak Karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan ekosistem yang tak ternilai, tetapi juga merambah ke ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat luas.
Ancaman Serius pada Target NDC Indonesia 2030
Indonesia telah berkomitmen di bawah Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan hingga 41% dengan dukungan internasional, pada tahun 2030. Komitmen ini dikenal sebagai Nationally Determined Contribution (NDC). Namun, pencapaian target ambisius ini terus menerus diganggu oleh insiden Karhutla, terutama yang terjadi di lahan gambut. Kebakaran lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah masif yang telah tersimpan selama ribuan tahun, jauh lebih besar daripada kebakaran hutan di lahan mineral. Emisi karbon ini secara langsung menggerus upaya mitigasi yang telah dilakukan di sektor lain dan bahkan dapat menyebabkan peningkatan total emisi, alih-alih pengurangan.
Para ilmuwan menekankan bahwa setiap musim kemarau ekstrem meningkatkan risiko Karhutla berskala besar, yang pada gilirannya mempercepat laju pemanasan global dan mempersulit Indonesia memenuhi janjinya. Kegagalan mencapai target ini tidak hanya berdampak pada kredibilitas Indonesia di mata dunia tetapi juga memperburuk krisis iklim global secara keseluruhan. Pembakaran hutan juga menghancurkan hutan sebagai penyerap karbon alami (carbon sink), yang seharusnya menjadi bagian integral dari solusi iklim, bukan masalah.
Dampak Multidimensi: Ekosistem dan Kesehatan Masyarakat
Dampak Karhutla tidak berhenti pada kontribusi emisi. Kerusakan yang ditimbulkannya memiliki dimensi luas, mulai dari degradasi ekosistem hingga krisis kesehatan masyarakat. Kabut asap yang menyertai kebakaran hutan telah menjadi bencana tahunan yang memengaruhi jutaan jiwa.
Kerusakan Ekosistem
Kebakaran hutan menghancurkan keanekaragaman hayati yang kaya di Indonesia. Spesies endemik, baik flora maupun fauna, seringkali tidak mampu bertahan dari amukan api, menyebabkan kepunahan lokal dan mengurangi keragaman genetik. Lahan gambut yang terbakar sulit sekali untuk direstorasi, membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk kembali pulih, jika mungkin. Kerusakan ini mengganggu fungsi hidrologi alami, memperparah risiko banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Hutan yang telah terbakar juga lebih rentan terhadap kebakaran berulang di masa mendatang, menciptakan lingkaran setan degradasi lingkungan.
Krisis Kesehatan Masyarakat
Asap Karhutla mengandung partikulat halus (PM2.5) dan berbagai zat berbahaya lainnya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida. Paparan jangka pendek maupun panjang terhadap kabut asap ini memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan:
- Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan asma.
- Memperburuk kondisi penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis.
- Menyebabkan iritasi mata, kulit, dan tenggorokan.
- Dampak negatif pada perkembangan anak-anak dan kesehatan ibu hamil.
- Penurunan produktivitas ekonomi akibat terganggunya aktivitas sehari-hari dan penutupan sekolah.
Krisis kesehatan ini bukan hanya beban bagi individu tetapi juga sistem kesehatan nasional, memerlukan alokasi sumber daya yang besar untuk penanganan dan pemulihan.
Tantangan dan Urgensi Pencegahan Karhutla Berkelanjutan
Penanganan Karhutla di Indonesia memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya, termasuk moratorium izin baru di lahan gambut dan restorasi ekosistem, tantangannya masih besar. Konflik tenurial, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, serta kurangnya penegakan hukum yang tegas masih menjadi kendala utama. Para ahli lingkungan dan ilmuwan terus menyerukan pentingnya strategi pencegahan yang lebih proaktif, bukan hanya reaktif.
Beberapa langkah kunci yang harus terus diperkuat meliputi:
- Penegakan Hukum: Implementasi sanksi yang tegas dan konsisten bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik individu maupun korporasi, untuk menciptakan efek jera.
- Peningkatan Kapasitas Deteksi Dini: Pemanfaatan teknologi satelit dan drone untuk monitoring hotspot secara real-time dan sistem peringatan dini yang efektif.
- Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat: Melibatkan dan memberdayakan komunitas lokal, terutama masyarakat adat, dalam pencegahan kebakaran melalui pendekatan kearifan lokal dan penyediaan alternatif mata pencarian berkelanjutan.
- Restorasi Ekosistem Gambut: Program restorasi dan rewetting lahan gambut yang terdegradasi untuk mengembalikan fungsinya sebagai penampung air dan mencegah kebakaran.
- Tata Kelola Lahan Berkelanjutan: Mendorong praktik pertanian dan perkebunan tanpa bakar, serta memastikan izin konsesi lahan dikeluarkan dengan pertimbangan lingkungan yang ketat.
Mengatasi Karhutla bukan hanya tentang melindungi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga tentang menjaga komitmen Indonesia di kancah global. Dengan kesadaran kolektif dan tindakan nyata, diharapkan Indonesia dapat membalikkan tren dan mencapai target iklimnya, demi masa depan yang lebih hijau dan sehat.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim dan Karhutla, Anda dapat merujuk pada laporan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

