Senin, 20 Juli 2026 Samarinda, ID
Daerah

Sistem IoT Peringatan Banjir Karya Mahasiswa Polnes Diuji Coba

Foto Istimewa : Bintang Nur Jati, mahasiswa Program Studi D4 Teknik Elektro Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), berhasil mengembangkan sebuah inovasi teknologi yang sangat bermanfaat

KUTAI KARTANEGARA, nusavox.com – Bintang Nur Jati, seorang mahasiswa Program Studi D4 Teknik Elektro Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), berhasil mengembangkan sebuah inovasi teknologi yang sangat bermanfaat. Ia merancang sistem IoT peringatan banjir yang mampu memantau ketinggian air sungai secara real time. Saat ini, ia tengah menguji coba alat tersebut di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, sebagai bagian dari penelitian tugas akhirnya.

Penelitian yang bertajuk “Rancang Bangun Sistem Monitoring Ketinggian Air Sungai dan Peringatan Dini Banjir” ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Melalui sistem pemantauan yang cepat, akurat, dan mudah diakses, warga sekitar diharapkan dapat mengantisipasi potensi bencana dengan lebih baik.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Bintang Nur Jati menjelaskan bahwa alat tersebut menunjukkan kinerja yang sangat memuaskan sejak proses perakitan hingga pemasangan di lapangan. Selain itu, perangkat ini sukses mengirimkan notifikasi otomatis ke aplikasi Telegram.

“Alhamdulillah, alat berjalan dengan baik dan berfungsi sesuai tujuan untuk memantau ketinggian air sungai. Sistem juga sudah berhasil mengirimkan notifikasi mengenai kondisi sungai dan peringatan dini banjir melalui Telegram,” ujar Bintang.

Meskipun demikian, ia mengaku masih terus melakukan pengujian intensif karena perangkat belum beroperasi selama 24 jam penuh. Tahapan pengujian ini sangat penting untuk memastikan stabilitas perangkat dalam menghadapi berbagai kondisi cuaca ekstrem maupun perubahan debit sungai yang drastis.

Cara Kerja Sensor dan Indikator Warna

Secara teknis, sistem IoT peringatan banjir ini memanfaatkan mikrokontroler sebagai pusat pemrosesan data. Komponen tersebut terhubung langsung dengan sensor ultrasonik yang terpasang di atas permukaan sungai. Sensor ini memancarkan gelombang ultrasonik untuk mengukur jarak permukaan air, lalu mengubahnya menjadi informasi tinggi muka air dalam satuan sentimeter.

Selanjutnya, layar LCD pada panel luar akan menampilkan hasil pengukuran tersebut secara instan. Layar ini menyajikan data tinggi muka air, status kondisi sungai, hingga suhu dan kelembapan panel kontrol.

Untuk memudahkan pemantauan, alat ini juga dilengkapi dengan lampu indikator berwarna yang menunjukkan tingkat kewaspadaan:

  • Lampu Hijau: Kondisi normal (ketinggian air 0–100 sentimeter).
  • Lampu Kuning: Status siaga (ketinggian air 100–170 sentimeter).
  • Lampu Merah: Tanda bahaya (air berpotensi meluap dan menggenangi jalan utama).

Integrasi Dashboard ThingsBoard dan Bot Telegram

Tidak hanya itu, perangkat ini juga mengirimkan seluruh data pengukuran ke dashboard monitoring berbasis platform open source ThingsBoard. Melalui dashboard tersebut, pengguna bisa melihat riwayat data pengukuran hingga satu bulan ke belakang untuk keperluan analisis mitigasi bencana.

Sementara itu, integrasi dengan bot Telegram semakin mempermudah akses informasi bagi masyarakat awam. Pengguna cukup membuka bot dan memilih menu yang tersedia untuk mengetahui kondisi sungai saat itu juga.

Lebih jauh lagi, sistem IoT peringatan banjir ini akan mengirimkan notifikasi darurat secara otomatis ke grup Telegram yang beranggotakan ketua RT, Karang Taruna, perangkat desa, serta instansi terkait. Mekanisme ini memastikan informasi menyebar secara bersamaan sehingga langkah evakuasi bisa berjalan lebih cepat.

Pada akhirnya, Bintang berharap inovasi berbasis IoT miliknya dapat memperkuat sistem mitigasi bencana di daerah rawan banjir.

“Harapannya, informasi real time ini dapat membantu masyarakat dan pemerintah mengambil keputusan lebih cepat ketika debit air meningkat, sehingga kita dapat meminimalkan risiko bencana,” pungkasnya.

(Aprl)