Sabtu, 29 Agustus 2026 Samarinda, ID
Nasional

BNPB Peringatkan: Hotspot Karhutla di Kalimantan Tengah Melonjak Drastis, Ribuan Hektare Lahan Hangus

Petugas gabungan berjibaku memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di area gambut, Kalimantan Tengah. (Foto: cnnindonesia.com)

PALANGKA RAYA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan peringatan keras terkait peningkatan drastis hotspot kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah. Data terbaru menunjukkan, jumlah titik panas telah melonjak hingga 4.359 titik, sebuah angka yang mengkhawatirkan dan menandakan fase kritis musim kemarau di wilayah tersebut. Eskalasi ini turut disertai dengan luas lahan yang terdampak, mencapai 7.634 hektare yang telah hangus dilalap api. Situasi ini memicu pengerahan besar-besaran operasi pemadaman dan pencegahan untuk meminimalkan dampak lebih lanjut.

Lonjakan Drastis Titik Panas dan Ancaman Lahan Gambut

Peningkatan signifikan jumlah hotspot ini menjadi sorotan utama BNPB dan berbagai pihak terkait. Angka 4.359 titik tidak hanya menunjukkan tren peningkatan yang tajam dibandingkan periode sebelumnya, tetapi juga menggambarkan betapa rentannya ekosistem hutan dan lahan di Kalimantan Tengah terhadap api. Dengan luas area terbakar yang mencapai lebih dari 7.600 hektare, ini mengindikasikan bahwa api tidak hanya menyala di satu atau dua lokasi, melainkan menyebar luas dan intensif.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

  • Mayoritas kebakaran terjadi di lahan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
  • Kondisi cuaca kering ekstrem akibat fenomena El Nino memperparah situasi, membuat vegetasi menjadi sangat kering.
  • Penyebab Karhutla seringkali berkaitan dengan aktivitas manusia, baik disengaja untuk pembukaan lahan atau karena kelalaian.

Lahan gambut, yang mendominasi sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah, merupakan tantangan besar dalam upaya pemadaman. Kebakaran gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dan menciptakan asap pekat yang menyelimuti area yang luas. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, seperti krisis Karhutla 2015 dan 2019, menunjukkan bahwa tanpa penanganan cepat dan terkoordinasi, angka ini dapat terus melambung dan menimbulkan bencana asap berskala regional bahkan internasional.

Upaya Pemadaman Multisektor dan Dampak Lintas Sektor

Menghadapi situasi darurat ini, berbagai upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif. Satuan tugas gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, serta masyarakat peduli api (MPA) bergerak di berbagai lokasi. Operasi pemadaman tidak hanya mengandalkan personel darat, tetapi juga didukung oleh teknologi seperti pemadaman udara (water bombing) menggunakan helikopter, serta modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan.

Dampak dari Karhutla ini tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan. Asap pekat yang dihasilkan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagi penduduk di daerah terdampak. Selain itu, jarak pandang yang minim akibat kabut asap mengganggu transportasi darat, sungai, dan udara, memukul sektor ekonomi dan pariwisata. Kerugian ekologis berupa hilangnya keanekaragaman hayati dan habitat satwa liar, termasuk orangutan yang terancam punah, juga menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.

Pencegahan Berkelanjutan dan Antisipasi Puncak Musim Kemarau

Meskipun operasi pemadaman berjalan, fokus utama pemerintah dan stakeholder adalah pada upaya pencegahan berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta patroli rutin di daerah rawan Karhutla merupakan langkah vital. BNPB juga terus mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan sistem deteksi dini dan respons cepat.

Dengan prediksi puncak musim kemarau dan potensi dampak El Nino yang kuat, ancaman Karhutla diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa minggu ke depan. Oleh karena itu, koordinasi yang solid antara pusat dan daerah, serta partisipasi aktif masyarakat, menjadi kunci utama untuk menekan angka kebakaran dan mencegah terulangnya bencana asap besar. Artikel ini akan terus diperbarui seiring perkembangan situasi. Informasi lebih lanjut mengenai upaya pencegahan Karhutla dapat diakses melalui situs resmi BNPB.