Sabtu, 12 September 2026 Samarinda, ID
Daerah

CTARSA Foundation dan Kodam XII Bersinergi Perkuat Penanggulangan Karhutla Kalteng

Anggota CTARSA Foundation dan Kodam XII/Tanjungpura aktif mendistribusikan bantuan masker dan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak asap Karhutla di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. (Foto: cnnindonesia.com)

PALANGKA RAYA – Penyebaran asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menjadi sorotan serius, mendorong berbagai pihak untuk bahu-membahu dalam upaya penanggulangan. Menanggapi krisis yang berulang ini, CTARSA Foundation, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada kegiatan sosial dan kemanusiaan, menggandeng Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura untuk melancarkan aksi cepat tanggap di lapangan. Kolaborasi strategis ini bertujuan meringankan beban masyarakat terdampak, khususnya melalui distribusi ribuan masker dan penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan gratis.

Krisis Asap yang Tak Kunjung Padam di Kalteng

Kalimantan Tengah, dengan karakteristik geografis berupa lahan gambut yang luas, seringkali menjadi langganan bencana Karhutla, terutama saat musim kemarau panjang melanda. Peristiwa ini bukan hanya merusak ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga menimbulkan dampak kesehatan yang serius bagi penduduk sekitar, terutama anak-anak, lansia, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan. Kualitas udara yang memburuk akibat partikel PM2.5 dari asap Karhutla dapat memicu berbagai penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga masalah kardiovaskular. Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Karhutla provinsi terus bekerja keras melakukan pemadaman dan pencegahan, namun skala permasalahan yang masif membutuhkan dukungan dari semua elemen masyarakat, mengacu pada serangkaian upaya serupa yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Sinergi Kemanusiaan: CTARSA dan Kodam XII di Garda Terdepan

Melihat urgensi situasi, CTARSA Foundation proaktif terjun langsung ke lokasi terdampak, berkoordinasi erat dengan jajaran Kodam XII/Tanjungpura yang memiliki jejaring luas dan kemampuan logistik di daerah. Keterlibatan TNI, khususnya Kodam XII yang membawahi wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sangat vital dalam upaya penanggulangan bencana. Mereka tidak hanya membantu aspek keamanan dan koordinasi lapangan, tetapi juga memfasilitasi distribusi bantuan ke daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Dalam operasi gabungan ini, CTARSA Foundation bersama Kodam XII/Tanjungpura memfokuskan aksi pada:

  • Distribusi 8.000 Masker: Ribuan masker standar medis dan N95 dibagikan kepada masyarakat, khususnya di area dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tinggi. Pembagian masker ini menjadi langkah preventif penting untuk melindungi saluran pernapasan warga dari paparan asap berbahaya.
  • Penyediaan Posko Pemeriksaan Kesehatan Gratis: Tim medis gabungan CTARSA dan personel kesehatan TNI membuka posko kesehatan. Mereka melakukan pemeriksaan rutin, khususnya untuk deteksi dini masalah pernapasan, serta memberikan konsultasi dan obat-obatan dasar bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap.
  • Edukasi Bahaya Asap dan Cara Pencegahan: Selain bantuan fisik, tim juga aktif memberikan sosialisasi tentang bahaya asap Karhutla, pentingnya menggunakan masker dengan benar, menjaga hidrasi tubuh, serta langkah-langkah sederhana untuk mengurangi dampak paparan asap di rumah.
  • Fokus pada Komunitas Rentan: Program ini menargetkan kelompok rentan seperti balita, anak-anak sekolah, ibu hamil, dan lansia, memastikan mereka mendapatkan perhatian khusus dan bantuan yang paling dibutuhkan.

Dampak Jangka Panjang dan Kebutuhan Solusi Berkelanjutan

Upaya kolaboratif antara CTARSA Foundation dan Kodam XII/Tanjungpura ini merupakan langkah konkret yang patut diapresiasi dalam memberikan bantuan kemanusiaan darurat. Namun, penanganan Karhutla tidak bisa hanya berhenti pada respons cepat saat bencana terjadi. Masalah ini memerlukan pendekatan holistik dan berkelanjutan. Penanganan Karhutla, seperti yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan, menuntut solusi jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada akar masalah dan pencegahannya.

Pencegahan Karhutla jauh lebih efektif daripada penanggulangan. Hal ini mencakup:

  • Pencegahan Pembakaran Lahan: Mengintensifkan patroli, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan ilegal, serta edukasi masif kepada masyarakat tentang bahaya dan sanksi pembakaran lahan.
  • Restorasi Gambut yang Rusak: Merekondisi ekosistem gambut yang kering dan rentan terbakar melalui pembasahan kanal dan penanaman kembali vegetasi yang sesuai.
  • Peningkatan Kapasitas Komunitas Lokal: Memberdayakan masyarakat adat dan komunitas di sekitar hutan untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan dan mencegah kebakaran.
  • Penerapan Teknologi: Pemanfaatan teknologi seperti satelit pemantau titik panas (hotspot) dan sistem peringatan dini untuk deteksi cepat dan respons yang lebih efisien.

Kolaborasi antara berbagai sektor, mulai dari pemerintah, TNI/Polri, organisasi nirlaba seperti CTARSA Foundation, hingga sektor swasta dan masyarakat, adalah kunci untuk mewujudkan solusi jangka panjang dan memastikan Kalimantan Tengah bebas dari ancaman asap Karhutla di masa mendatang. Keberlanjutan inisiatif semacam ini diharapkan dapat meminimalisir dampak Karhutla dan melindungi kesehatan serta lingkungan hidup masyarakat secara permanen.

Referensi terkait upaya pemerintah dalam penanggulangan Karhutla dapat diakses melalui situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).