Manajemen Danantara menggebrak publik dengan pengumuman transformasi masif Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan dilakukan secara mandiri, tanpa melibatkan konsultan eksternal. Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, secara tegas menyatakan komitmen untuk merampingkan struktur BUMN. Target ambisius mencakup penutupan 750 perusahaan dan konsolidasi 200 entitas lainnya hingga akhir tahun 2026.
Langkah ini menegaskan kepercayaan Danantara terhadap kapabilitas internal untuk menjalankan restrukturisasi skala besar, sekaligus menandai upaya signifikan untuk menghemat anggaran yang biasanya dialokasikan untuk jasa konsultasi. Keputusan ini berpotensi menjadi tolok ukur baru dalam efisiensi pengelolaan perusahaan negara.
Target Konsolidasi dan Efisiensi Masif
Program transformasi yang diusung Danantara ini bukan sekadar perbaikan kosmetik, melainkan restrukturisasi fundamental yang akan mengubah peta lanskap BUMN. Penutupan 750 perusahaan dan konsolidasi 200 entitas dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun menunjukkan kecepatan dan agresivitas dalam mencapai tujuan. Angka-angka ini menggambarkan skala kompleksitas yang akan dihadapi, mulai dari proses audit, valuasi aset, hingga penataan ulang sumber daya manusia.
Danantara menargetkan terciptanya BUMN yang lebih ramping, lincah, dan fokus pada bisnis inti yang strategis. Konsolidasi diharapkan mampu menciptakan sinergi yang lebih kuat antar entitas, mengurangi duplikasi fungsi, serta meningkatkan daya saing di pasar. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan setiap entitas BUMN beroperasi secara optimal dan memberikan kontribusi maksimal bagi negara.
Mengapa Tanpa Konsultan?
Keputusan untuk tidak menggunakan jasa konsultan dalam proyek sebesar ini menjadi sorotan utama. Dony Oskaria mengisyaratkan bahwa langkah ini diambil untuk memaksimalkan efisiensi biaya dan menunjukkan kepercayaan penuh terhadap tim internal Danantara. Selama ini, biaya konsultasi seringkali menjadi beban signifikan bagi perusahaan, termasuk BUMN.
Dengan mengandalkan keahlian dan pengalaman para profesional di Danantara, pemerintah berharap dapat memangkas pengeluaran yang tidak perlu, sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan. Pendekatan ini juga mencerminkan upaya untuk membangun kapasitas internal yang lebih kuat, menjadikan Danantara sebagai pelopor dalam strategi transformasi mandiri di sektor BUMN.
Dampak dan Tantangan ke Depan
Transformasi radikal ini tentu akan membawa dampak yang luas. Dari sisi ekonomi, perampingan BUMN diharapkan dapat meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada penerimaan negara. Namun, skala penutupan perusahaan yang masif juga memunculkan tantangan, terutama terkait pengelolaan aset dan potensi dampak sosial terhadap karyawan yang mungkin terdampak.
Danantara menghadapi tugas berat untuk memastikan proses ini berjalan transparan, adil, dan meminimalkan gejolak. Langkah ini sejalan dengan berbagai inisiatif reformasi BUMN yang telah berjalan di bawah Kementerian BUMN dalam beberapa tahun terakhir. Tujuannya adalah menciptakan BUMN yang berkelas dunia, adaptif terhadap perubahan pasar, dan bebas dari praktik-praktik tidak efisien di masa lalu. Keberhasilan Danantara dalam merealisasikan target 2026 akan menjadi bukti nyata efektivitas strategi reformasi yang berani dan mandiri ini.

