Jumat, 26 Juni 2026 Samarinda, ID
Daerah

Mental Juara Pesilat Cilik Loa Kumbar Samarinda

Foto Istimewa : Kapten Inf Imam Nawawi

SAMARINDA, nusavox.com – Puluhan anak di kawasan Loa Kumbar berlatih pencak silat dengan penuh semangat. Padahal, mereka masih bergantung pada perahu ketinting untuk menjangkau dunia luar. Namun, di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, para pesilat cilik Loa Kumbar ini menyimpan mimpi yang sama besar dengan anak-anak perkotaan. Mereka ingin meraih prestasi sekaligus mengubah masa depan.

Suasana penuh haru ini mewarnai kunjungan Ketua Cabang PSTD Persatu 79 Samarinda, Kapten Inf Imam Nawawi, ke lokasi pembinaan silat Ranting Sungai Kunjang, Rabu malam (17/6/2026). Melalui kunjungan tersebut, ia memantau langsung kesiapan atlet-atlet muda sebelum mereka berlaga di kejuaraan pencak silat Samarinda pada pertengahan Juli mendatang.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

Menata Tiga Kunci Utama Menuju Juara

Meskipun teknik dan fisik sangat penting, Imam menilai keberhasilan seorang atlet tidak hanya bersandar pada dua hal tersebut. Sebaliknya, Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 091/Aji Surya Natakesuma ini menegaskan bahwa faktor paling krusial justru terletak pada kekuatan mental.

“Kalau saya selalu bilang, ada tiga yang tidak boleh dibolak-balik. Pertama mental, kedua fisik, baru teknik. Fisik bisa kita latih, teknik bisa kita pelajari. Namun, kalau mental sudah jatuh, semuanya akan sulit berjalan,” ujarnya di hadapan para peserta latihan.

Imam menyampaikan pesan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, Loa Kumbar merupakan salah satu wilayah di Samarinda yang masih menghadapi tantangan transportasi yang berat. Sebagian masyarakat harus mengarungi jalur sungai menggunakan perahu kecil untuk mencapai pusat kota.

Akibatnya, banyak pihak menilai kondisi geografis yang sulit ini sebagai hambatan besar bagi perkembangan anak-anak setempat.

Mengubah Tantangan Menjadi Karakter Juara

Akan tetapi, Kapten Inf Imam Nawawi justru melihat kondisi tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, lingkungan yang penuh tantangan justru menempa karakter, daya juang, dan ketahanan mental para pesilat cilik Loa Kumbar dengan lebih kuat.

Oleh karena itu, ia memotivasi para peserta bahwa asal daerah dan kondisi tempat tinggal tidak menentukan kesuksesan seseorang. Selanjutnya, ia meminta mereka untuk berani bermimpi besar dan teguh mewujudkannya.

  • Membangun Mimpi Besar: Anak-anak wajib bercita-cita tinggi tanpa memedulikan keterbatasan latar belakang.
  • Menolak Menyerah: Tantangan hari ini akan berubah menjadi modal kekuatan untuk meraih sukses di masa depan.
  • Memaksimalkan Daya Juang: Anak-anak di daerah terpencil memiliki modal penting berupa semangat bertahan yang tinggi.

Selain itu, Imam meyakini bahwa pembinaan yang tepat melalui olahraga dan pendidikan akan membuka peluang yang sama bagi mereka untuk berprestasi di tingkat nasional.

Membentuk Karakter Lewat Pencak Silat

Di arena latihan sederhana itu, para pesilat cilik Loa Kumbar tidak hanya mengasah jurus, pukulan, dan teknik bertanding. Lebih dari itu, mereka sedang menempa mental tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dengan demikian, Imam memandang pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri tradisional. Bahkan, olahraga ini menjadi sarana efektif untuk membangun karakter generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah.

“Mimpi tidak ditentukan oleh seberapa dekat seseorang dengan pusat kota. Mimpi ditentukan oleh seberapa kuat seseorang bertahan, bangkit, dan terus melangkah meski jalannya tidak mudah,” pungkasnya.

Pada akhirnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa prestasi besar sering kali lahir dari tempat-tempat yang sederhana. Di sudut Samarinda yang jauh dari hiruk-pikuk kota, harapan-harapan besar kini tumbuh subur bersama kepalan tangan anak-anak yang terus berlatih mengejar cita-cita.

Penulis : Aprillia