Rabu, 7 Oktober 2026 Samarinda, ID
Kota Samarinda

Fransisca Debi Bawa Isu Perlindungan Perempuan di Samarinda

SAMARINDA, nusavox.com – Isu perlindungan perempuan dan anak menjadi salah satu fokus utama Fransisca Debi Oktavia dalam menjalankan kepengurusan Dewi Pertiwi DPD PSI Samarinda. Organisasi perempuan yang menjadi mitra strategis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tersebut didorong untuk menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Fransisca yang berlatar belakang psikolog menilai persoalan perempuan di Samarinda tidak cukup direspons melalui kegiatan seremonial. Menurutnya, organisasi perlu turun langsung mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi perempuan di tingkat masyarakat.

IKLAN Pasang Iklan Anda di Sini Jangkau pembaca setia NUSAVOX di tengah artikel. Selengkapnya

“Kami tidak ingin terlalu lama berhenti pada seremoni. Tahap pertama yang akan kami lakukan adalah konsolidasi organisasi sekaligus turun langsung untuk melihat kebutuhan perempuan di Samarinda,” ujar Fransisca di Samarinda, Selasa.

Ia mengatakan konsolidasi menjadi langkah awal untuk memetakan berbagai persoalan perempuan sekaligus menentukan program yang relevan dengan kondisi di Samarinda.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Gerakan Perempuan Berdokumen. Program tersebut akan diarahkan untuk membantu perempuan dan anak yang menghadapi persoalan administrasi kependudukan, terutama ketika keterbatasan dokumen berdampak terhadap akses mereka terhadap hak dan pelayanan dasar.

Namun, agenda Dewi Pertiwi Samarinda tidak hanya berkutat pada persoalan administrasi. Fransisca menyebut pemberdayaan perempuan, kesehatan mental, peningkatan kapasitas serta perlindungan perempuan dan anak juga menjadi bagian dari program yang akan dikembangkan.

Soroti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Sebagai psikolog, Fransisca melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak perlu mendapat perhatian lebih serius. Edukasi dan pencegahan dinilai menjadi bagian penting sebelum persoalan berkembang menjadi kasus yang lebih berat.

“Kalau saya melihat dari perspektif saya sebagai psikolog sekaligus sebagai perempuan, salah satu persoalan yang paling membutuhkan perhatian adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga,” katanya.

Data Pemerintah Kota Samarinda mencatat terdapat 264 kasus kekerasan dengan 303 korban sepanjang Januari-November 2025. Pemkot Samarinda juga telah mengembangkan Sistem Online Pengaduan Perempuan dan Anak (SOPPA) sebagai salah satu sarana pengaduan.

Bagi Fransisca, data tersebut menjadi gambaran bahwa upaya perlindungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat dan organisasi sosial juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam pencegahan.

“Peran masyarakat dan organisasi seperti Dewi Pertiwi adalah ikut memperkuat edukasi, pencegahan, literasi, serta membantu masyarakat mengetahui ke mana harus mencari pertolongan,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan dan perundungan perlu diperluas. Begitu pula dengan pengetahuan mengenai relasi sehat, batasan tubuh, persetujuan, pola pengasuhan serta pentingnya mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Perempuan Tidak Harus Menghadapi Masalah Sendirian

Fransisca menekankan bahwa pemberdayaan perempuan tidak berarti menuntut perempuan selalu mampu menghadapi seluruh persoalan seorang diri.

“Perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus selalu kuat sendirian. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang tahu haknya, tahu batasnya, tahu pilihan yang dimilikinya, dan tahu ke mana harus meminta bantuan ketika membutuhkan,” tuturnya.

Ia juga memastikan Dewi Pertiwi Samarinda terbuka terhadap keterlibatan perempuan dari berbagai latar belakang. Pelaku UMKM, profesional, akademisi, mahasiswa, ibu rumah tangga hingga aktivis komunitas dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi.

Menurut Fransisca, keberagaman latar belakang justru dibutuhkan agar organisasi dapat melihat persoalan perempuan dari berbagai sudut pandang.

“Persoalan perempuan tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja,” katanya.

Bawa Perspektif Psikolog ke Kerja Sosial

Latar belakang Fransisca sebagai psikolog juga menjadi modal dalam merancang program Dewi Pertiwi Samarinda. Ia menilai persoalan kesehatan mental perempuan sering kali tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan kekerasan, relasi personal, tekanan sosial, kondisi ekonomi hingga pola pengasuhan.

Karena itu, ia ingin Dewi Pertiwi menjadi ruang yang mampu mempertemukan pengalaman profesional dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya melihat Dewi Pertiwi sebagai sebuah ruang untuk menghubungkan pengalaman profesional saya dengan kerja sosial di masyarakat,” ujarnya.

Fransisca menargetkan organisasi yang dipimpinnya tidak sekadar aktif membuat kegiatan, tetapi mampu menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menilai keberhasilan organisasi seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan maupun besarnya struktur kepengurusan.

“Ukuran organisasi bukan seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar dampak yang bisa ditinggalkannya,” pungkas Fransisca.

(Aprl)