TARAKAN, nusavox.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK Tarakan menyoroti tren peningkatan kasus gagal ginjal anak di wilayahnya. Fenomena mengkhawatirkan ini menjadi perhatian serius pihak rumah sakit seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan bagi pasien gagal ginjal usia muda.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Ronald Jan Palenteng, mengungkapkan fakta tersebut. Ia menjelaskan bahwa rumah sakit kini melihat kecenderungan pasien gagal ginjal yang membutuhkan tindakan cuci darah (hemodialisis) datang dari kelompok usia yang semakin muda.
“Sekarang trennya usia pasien gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah juga semakin muda,” ujarnya.
Pola Konsumsi Minuman Manis Jadi Pemicu Utama
Menurut dr. Ronald, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk lebih ketat mengontrol jajanan buah hati mereka. Ia menilai kebiasaan mengonsumsi minuman manis kemasan secara rutin dapat merusak kesehatan organ ginjal anak jika tidak dikendalikan sejak dini.
“Memang pola konsumsi menjadi perhatian. Anak-anak sekarang banyak yang rutin mengonsumsi minuman manis kemasan setiap hari,” ungkap dr. Ronald.
RSUD Jusuf SK Siapkan Dokter Subspesialis
Menyikapi fenomena tersebut, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan langsung bergerak cepat menyusun strategi. Pihak rumah sakit mulai mempersiapkan peningkatan layanan kesehatan, termasuk rencana pengembangan tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus di bidang penyakit ginjal anak.
Selanjutnya, manajemen rumah sakit telah membahas rencana strategis ini bersama dokter spesialis anak dan dokter konsultan penyakit dalam. Kehadiran dokter subspesialis (konsultan) ginjal anak dinilai sangat krusial untuk menjawab kebutuhan pelayanan pasien di Kalimantan Utara.
Meskipun demikian, upaya peningkatan kompetensi medis ini masih menghadapi tantangan pembiayaan yang cukup besar. Sebagai rumah sakit di wilayah kepulauan, pengiriman dokter untuk menempuh pendidikan subspesialis membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
“Kami berusaha supaya dokter yang sudah PNS bisa melanjutkan sekolah. Oleh sebab itu, harapannya ada dukungan beasiswa dari pemerintah. Jika tidak ada beasiswa, biayanya cukup memberatkan karena selama pendidikan dokter tetap hanya menerima gaji pokok, sementara biaya operasional kuliah sangat banyak,” tutupnya.
(Aprl)

