SAMARINDA, nusavox.com — Para siswa SMK Kehutanan Negeri Samarinda menyuarakan kepedulian terhadap pelestarian hutan melalui cara yang kreatif dan edukatif. Mereka menggelar Workshop Menulis Puisi bertajuk “Suara Hutan: Dari Hutan Menjadi Kata, dari Kata Menjadi Kepedulian”, Sabtu (31/10/2026).
Program literasi perpustakaan ini berlangsung di bawah arahan Kepala Perpustakaan, Suci Rosandi. Selain itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Reny Supraba, memfasilitasi penuh seluruh rangkaian kegiatan tersebut.
Mendorong Lahirnya Karya Tulis Calon Rimbawan Muda
Kepala Sekolah SMK Kehutanan Negeri Samarinda, Mukhamad Ari Hidayanto, menegaskan pentingnya keberlanjutan dari kegiatan literasi ini.
“Kami berharap workshop ini menjadi titik awal lahirnya karya-karya tulis hebat dari para calon rimbawan muda, bukan sekadar agenda sesaat,” tegas Mukhamad.
Ia menambahkan bahwa pihak sekolah akan mempublikasikan karya-karya tersebut dalam format cetak maupun digital agar masyarakat luas dapat mengunduh dan mencapainya dari mana saja.
“Melalui tulisan dan puisi, anak-anak kita dapat menyuarakan betapa pentingnya menjaga dan merawat lingkungan demi pelestarian hutan sebagai warisan paling berharga untuk generasi mendatang,” katanya.
Memberikan Bimbingan Menulis dan Pelatihan Teknologi AI
Dalam kesempatan ini, narasumber Rachmawati dari Yayasan Fastabiqul Khairat membagikan pengalamannya menerbitkan lebih dari 30 karya tulis. Beliau membimbing langsung para peserta untuk mengolah gagasan dan empati terhadap pelestarian hutan menjadi bait-bait puisi yang indah.
Bukan hanya merangkai kata, para peserta juga mempelajari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI). Dengan bantuan AI, para siswa mempraktikkan cara membuat visualisasi dan ilustrasi puisi secara langsung untuk mempercantik karya mereka.
Targetkan 50 Buku Puisi dan Antologi Karya Guru
Pada sesi utama, sebanyak 100 siswa membentuk 50 kelompok dan menargetkan penerbitan 50 buku puisi. Di samping itu, 50 guru dan tenaga kependidikan turut berkolaborasi untuk menyusun satu buku antologi puisi bersama.
Sebagai penutup, perwakilan guru, tenaga kependidikan, serta empat orang siswa menampilkan pembacaan puisi di hadapan seluruh peserta. Tingginya antusiasme peserta menguatkan harapan agar sekolah dapat terus menyelenggarakan kegiatan edukatif bertema pelestarian hutan ini secara berkelanjutan.
(Aprl)

